Alexander Marwata Sentil Kepala Daerah saat Bicara Pemimpin Antikorupsi, Ada Istilah Lingkaran Setan

Jumat 12 Jul 2024 - 21:40 WIB

RADARLEBONG.BACAKORAN.CO- Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Alexander Marwata menyebut Indonesia sedang darurat tokoh pemimpin antikorupsi yang bisa menjadi panutan.

Alex menyebut kepala daerah selayaknya pimpinan harus menjadi contoh yang baik bagi anak buahnya. Tidak hanya sebatas perkataan, tetapi melakukan yang dikatakan alias walk the talk.

"Walk the talk, pimpinan tidak hanya sekadar omong, apa yang kamu ucapkan itu yang kamu lakukan," katanya dalam pembukaan Roadshow Bus KPK di Semarang, Kamis (11/7) dilansir dari jpnn.com

Dalam pengamatannya, Indonesia sedang defisit tokoh-tokoh yang bisa menjadi panutan. Dia mengajak para kepala daerah untuk menengok bapak pendiri bangsa seperti Bung Hatta sebagai panutan.

BACA JUGA:Usut Kasus Bansos Presiden, KPK Periksa 3 Pihak Swasta dari Surabaya, Siapa?

Selain sang proklamator, Alexander juga menyebut Jaksa Agung Baharuddin Lopa, Hakim Agung Ismail Saleh, Kapolri Hoegeng yang memiliki integritas dan kapabilitas luar biasa.

"Apa teladan yang diwariskan Bung Hatta salah satunya ingin membeli sepatu Pele buatan Swiss, mengkliping iklan sepatu itu sampai wafat tidak terbeli. Seharusnya menjadi panutan kita," tuturnya.

Alex mengatakan kekurangan tokoh panutan itu dilihatnya saat menjadi pimpinan KPK selama sembilan tahun terakhir ini. Terlebih saat melihat kontestasi pemilihan umum (pemilu) Februari lalu.

Dia bilang, pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan calon anggota legislatif (pileg) 2024 yang sukses tak ada huru-hara, tetapi menurutnya kental dengan politik uang atau money politic.

BACA JUGA:Untaian Kata dari SYL untuk Jokowi dan Surya Paloh

"Kita di sini membicarakan pendidikan antikorupsi, meningkatkan intensitas tetapi fakta di lapangan ternyata tidak sejalan, ini sungguh sangat ironis," katanya.

Dia merasa pesimistis penyelenggaraan pemilihan kepala daerah atau Pilkada 2024 yang digelar serentak November mendatang jauh dari money politic.

"Ya, penyelenggara pilkada yang jor-joran itu tidak mendidik, secara tidak langsung mengajari masyarakat kita berbuat korupsi," ujarnya.

Jika tak ada nilai integritas, menurutnya pada Pilkada 2024 ini para calon kepala daerah akan sibuk melakukan bujuk rayu dengan beragam cara hingga serangan fajar menjelang pemungutan suara.

Dia juga menyinggung kandidat calon kepala daerah yang menghalalkan bagi-bagi uang kepada masyarakat dengan dalih sedekah.

Kategori :