Gabungkan Pemberdayaan Ekonomi & Konservasi Lahan, Indocement Kembangkan Program Jangkrik BOS

Sabtu 29 Nov 2025 - 23:05 WIB

JAKARTA.RADARLEBONG.BACAKORAN.CO - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (Indocement) melalui Program Jangkrik BOS menggabungkan pemberdayaan ekonomi, edukasi lingkungan, dan konservasi keanekaragaman hayati di lahan pascatambang Kompleks Pabrik Indocement Citeureup.

Corporate Secretary Indocement, Dani Handajani mengatakan program ini dirancang sebagai model ekonomi sirkular yang memanfaatkan limbah organik rumah tangga, limbah pasar, dan tanaman di lahan pascatambang sebagai pakan alami untuk budidaya jangkrik.

“Program Jangkrik BOS kami rancang sebagai pendekatan Creating Shared Value (CSV) yang menyatukan tujuan sosial, lingkungan, dan ekonomi masyarakat desa mitra. Dari limbah lahir manfaat, dan dari inovasi tumbuh kehidupan yang berkelanjutan,” ujar Dani Handajani.

Sejak dimulai pada 2022, Jangkrik BOS telah berjalan di empat desa mitra: Nambo, Lulut, Tajur, dan Gunungputri, melibatkan kelompok perempuan, pemuda, hingga masyarakat rentan.

Peserta program mendapat pelatihan budidaya jangkrik, kewirausahaan, serta manajemen usaha melalui kerja sama antara Indocement dan pemerintah desa.

Inovasi lokal terus berkembang, termasuk penggunaan mesin penggiling pakan berbahan bekas, sistem kandang tertutup, dan teknologi water spray gun untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas budidaya.

“Kami mendorong masyarakat untuk mengembangkan inovasi lokal dengan memanfaatkan material yang ada di lingkungan mereka. Hasilnya, efisiensi meningkat dan produksi lebih terjaga,” tuturnya.

Program ini tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga memperkuat aspek konservasi.

Melalui pemanfaatan lahan pascatambang, Indocement membangun Taman Serangga, yang kini menjadi habitat bagi 38 jenis serangga lokal sekaligus pusat edukasi biodiversitas bagi masyarakat.

Hingga 2025, lebih dari 120 anggota aktif memproduksi rata-rata 500 kilogram jangkrik per bulan, dengan pendapatan tambahan Rp6–13 juta per tahun per rumah tangga.

“Program ini bukan hanya menciptakan peluang usaha, tetapi juga menghadirkan ruang edukasi dan konservasi yang berdampak langsung pada pelestarian ekosistem lokal,” terangnya.

Kajian Trisakti Sustainability Center menunjukkan nilai SROI 2,23, sedangkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) oleh Universitas Indonesia mencatat kategori “Baik” pada seluruh desa mitra.

“Integrasi program ini dengan Roadmap ESG 2025–2030 adalah komitmen kami untuk terus memperkuat keterampilan masyarakat, kolaborasi sosial, serta pelestarian lingkungan sebagai fondasi kemandirian desa,” serunya. (jp)

Kategori :