koranradarlebong.com- Dalam era modern yang semakin sadar akan pentingnya gaya hidup sehat, diet rendah karbohidrat menjadi salah satu tren paling populer.
Banyak orang tertarik mencobanya karena diet ini dianggap efektif untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan energi.
Namun, sebelum Anda memutuskan untuk menghapus nasi, mie, dan roti dari menu harian, penting untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh saat menjalani diet rendah karbohidrat.
Apa Itu Diet Rendah Karbohidrat?
BACA JUGA:Manfaat Bayam untuk Kesehatan Tubuh jika Dikonsumsi Setiap Hari
Diet rendah karbohidrat, atau dikenal juga sebagai low-carb diet, adalah pola makan yang membatasi asupan karbohidrat—terutama dari makanan olahan dan tinggi gula—dan menggantinya dengan protein serta lemak sehat.
Tujuannya adalah mengubah sumber energi tubuh dari glukosa menjadi lemak, sebuah kondisi yang dikenal dengan istilah ketosis.
Reaksi Awal Tubuh: Mengalami Flu Karbo
Saat tubuh secara drastis dikurangi asupan karbohidratnya, akan muncul reaksi adaptasi yang biasa disebut "flu karbohidrat" atau low-carb flu.
BACA JUGA:4 Alternatif Pengganti Minyak Goreng Untuk Diet, Bikin Lebih Sehat!
Gejalanya meliputi kelelahan, pusing, mual, sakit kepala, dan perubahan suasana hati. Hal ini terjadi karena otak yang biasa mendapatkan energi dari glukosa, kini harus beradaptasi menggunakan keton sebagai bahan bakar baru.
Meski gejala ini bersifat sementara, biasanya berlangsung selama beberapa hari hingga satu minggu, penting untuk memperhatikan asupan cairan dan elektrolit agar tubuh tetap seimbang.
Masuk ke Fase Ketosis
Setelah melewati fase awal adaptasi, tubuh akan masuk ke kondisi ketosis. Dalam kondisi ini, tubuh mulai membakar lemak sebagai sumber utama energi, dan menghasilkan keton yang digunakan otak dan organ lainnya.
Ketosis sering dikaitkan dengan penurunan berat badan yang signifikan, namun perlu diingat bahwa tidak semua orang cocok menjalani kondisi ini dalam jangka panjang.