Carter 747

Catatan Dahlan Iskan Carter 747--

Sebenarnya Radjimin mampu sekolah sampai mana pun. Papanya seorang akuntan. Tapi SMA tempat Radjimin sekolah ditutup pemerintah: Xin Zhong. Sejak itu ia pilih langsung bekerja. Awalnya membantu ayahnya, lalu usaha sendiri: buka toko onderdil di Jalan Baliwerti Surabaya.

Usianya baru 17 tahun.

Radjimin tidak hanya menunggu pembeli di tokonya. Ia aktif jualan ke proyek-proyek. Lalu jadi pemasok peralatan di proyek bendungan Karangkates. Yakni proyek untuk membendung hulu sungai Brantas. Lokasinya: antara Malang dan Blitar.

Awalnya Radjimin hanya jadi pemasok peralatan teknik. Lama-lama memasok semua yang diperlukan proyek itu.

Saat itulah Radjimin jatuh cinta. Tidak sengaja. Radjimin diajak temannya berkunjung ke rumah temannya teman. Di rumah itulah, di Jalan Widodaren, Anita tinggal bersama kakak-kakaknyi.

Waktu itu Anita masih sekolah SMA di Santa Maria. Papa-mama Anita tinggal di Bondowoso –punya toko emas di sana.

Anita tidak tahu kalau Radjimin menaksirnyi. Dia tahu itu ketika Radjimin ke Jepang. "Tiap hari ia kirim kartu pos dari Tokyo. Tiap hari," ujar Anita. Anda belum tahu apa itu kartu pos. Saya juga sudah lupa. Saya tidak pernah merayu si Galuh Banjar dengan kirim kartu pos.

Anita tidak pernah merespons. Tapi Radjimin punya banyak akal. Ia dekati kakak-kakak Anita. Merekalah yang akhirnya gigih merayu agar Anita memilih Radjimin.

Waktu itu Radjimin sudah punya mobil. Anita tahu, ia selalu naik mobil jeep Willis. Radjimin tidak pernah pamer ke Anita bahwa ia sebenarnya sudah punya mobil Mercy Sport. Betapa sukses Radjimin muda. Semuda itu, di zaman itu, sudah punya Mercy Sport.

Seperti umumnya pengusaha muda Radjimin juga pernah ''jatuh''. Tapi segera bangkit lagi. Maka jatuhlah ketika masih muda –agar Anda lebih mudah bangkit. Tapi kalau ada orang tua jatuh lalu bisa bangkit itu memang istimewa.

Dari Karangkates, Radjimin jadi pemasok untuk bendungan Gajah Mungkur. Lebih jauh lagi. Di Wonogiri, pojokan tenggara Jateng.

Lalu ia bisnis telekomunikasi. Radjimin memasok peralatan telekomunikasi di berbagai kabupaten dan kecamatan. Belum ada internet. Belum ada HP. Alat komunikasi antar kabupaten dan kecamatan saat itu disebut SSB –mungkin si juara perusuh Disway masih tahu apa itu SSB.

Usaha Radjimin berlanjut ke properti. Ia bebaskan satu lokasi: dibangunlah ruko. Di beberapa lokasi. Termasuk membebaskan rumah kuno di pojokan Ambengan untuk dijadikan restoran Venesia yang kemudian terkenal.

Setelah menangani bisnis di berbagai daerah, Radjimin merasa waktunya habis di jalan raya. Tabungan sudah setinggi tugu Monas. Ia pun ingin memasuki bisnis yang tidak terlalu makan tenaga.

Maka ia bebaskan 200 rumah kampung di belakang Jalan Embong Malang. Jadilah hotel bintang lima plus: J.W. Marriott. Sampai sekarang masih jadi hotel terbaik.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan