Silalahi Ande-ande

catatan dahlan iskan -foto :disway-

 

Pemilik resto punya teknik sendiri untuk membuat ikan keramba itu gurih. Dia bisa menghilangkan bau lumpur di ikan bakarnya. Caranya: tiga hari sebelum dibakar, ikan itu disuruh puasa dulu. Cara berpuasanya: setelah diambil dari keramba ikan dimasukkan kolam air tawar. Tidak diberi makan apa pun selama tiga hari.

 

Dengan demikian nila tersebut menjalani detox selama tiga hari. Harapannya: sisa-sisa makanan keramba (pelet) terkuras habis dari perut dan ususnya.

 

Maka kalau semula kami memesan ikan bakar sebagai pematut untuk nebeng makan durian jadilah kebablasan. Ikan bakar itu ludes. Beserta sambal dan nasinya.

 

Akibatnya durian di pikap masih tersisa banyak. Harus menyusun jadwal baru di mana akan menghabiskannya. Perjalanan masih panjang. Masih banyak kesempatan untuk membuat jalan kenangan.

 

Desa Silalahi sungguh berbatu. Tidak mungkin menjadi sumber kemakmuran –pun di masa depan. Maka keramba ikan itu masih merupakan sumber penghasilan penting.

 

Memang keramba bisa mengancam kelangsungan alami Danau Toba. Tapi sebelum ditemukan cara menghapus kemiskinan di pinggirnya rasanya sulit melarangnya.

 

Memang ada sumber penghasilan lain: menenun ulos Silalahi. Saya mampir ke tempat penenunan binaan Pemkab Dairi. Menantu Pak Iskan sangat menikmatinya –lalu menambah koleksi tenun dan ulosnyi.

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan