Kasus TBC Lebong Tertinggi di Bengkulu
Ilustrasi TBC.-foto :internet-
LEBONG.RADARLEBONG.BACAKORAN.CO - Situasi kesehatan masyarakat di Kabupaten Lebong memasuki fase yang memprihatinkan menjelang akhir tahun 2025. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebong melaporkan terjadinya peningkatan signifikan kasus Tuberkulosis (TBC), yang menempatkan daerah tersebut sebagai penyumbang kasus tertinggi di Provinsi Bengkulu.
Berdasarkan rekapitulasi Dinkes Lebong hingga 30 Desember 2025, jumlah kasus TBC yang berhasil ditemukan mencapai 304 kasus. Angka tersebut setara dengan 85 persen dari target penemuan kasus TBC tahun 2025 yang ditetapkan sebanyak 357 kasus.
Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tren kasus TBC di Kabupaten Lebong menunjukkan kenaikan yang cukup tajam.
Pada tahun 2023, tercatat 239 kasus, kemudian meningkat pada tahun 2024 menjadi 326 kasus, dan kembali menunjukkan angka tinggi di tahun 2025.
Baca Juga: Perbaikan TPA Air Kopras Belum Tuntas, DLH Lebong Ajukan Perpanjangan ke KLH
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Lebong, Evan Martha, SKM, menyebutkan bahwa mayoritas penderita TBC berasal dari kalangan pekerja tambang emas.
Ia menilai, kondisi kerja di sektor pertambangan menjadi faktor utama tingginya risiko penularan.
"Sebagian besar penambang bekerja di dalam ruang sempit, berdesakan, minim sirkulasi udara, dan tidak mendapatkan paparan sinar matahari secara langsung. Kondisi ini sangat mendukung penyebaran bakteri TBC, terutama karena adanya interaksi yang intens dalam waktu lama," jelas Evan Martha.
Selain faktor lingkungan, rendahnya kesadaran pekerja tambang terhadap pemeriksaan kesehatan rutin juga menjadi tantangan tersendiri.
Akibatnya, banyak kasus TBC baru terungkap saat kondisi pasien sudah memasuki tahap lanjut, sehingga potensi penularan ke orang lain semakin besar.
Sebagai respons atas tingginya kasus TBC di Lebong, Dinas Kesehatan terus menggencarkan penemuan kasus aktif, memastikan keberlanjutan pengobatan, serta memperluas edukasi kesehatan kepada masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti penambang emas.
Masyarakat juga diminta untuk tidak mengabaikan gejala awal TBC, antara lain batuk berkepanjangan, berat badan menurun, serta tubuh mudah lelah, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan.
"Dengan meningkatnya jumlah kasus TBC ini, diharapkan adanya kerja sama dari seluruh pihak, termasuk pelaku usaha tambang dan masyarakat, untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat serta mendukung program eliminasi TBC di Kabupaten Lebong," pungkasnya.