Beberapa restoran di sana sampai memasang pemberitahuan ini: Tidak Diperkenankan Joget –No Dancing Allowed.
Umumnya orang kulit hitam tidak bisa tidak goyang. Seperti Anda: begitu dengar lagu ''Zainal'' pantat pun karujutan.
Saya pernah senam-joget bersama ibu-ibu muda Subang. Tiga bulan lalu. Begitu sampai pada lagu ''Zainal'' saya justru sampai berhenti ikut gerakan mereka: ampuuun. Seksi dan menggemaskan. Sampai Nicky, tim pelatih senam kami dari Surabaya saya minta meng-copy-nya.
Kami pun kini rutin ketularan memutar 'Zainal' lengkap dengan gerakannya --mungkin hanya mampu menirukan 70 persen yang di Subang.
Jazz juga seperti ''Zainal'' –begitu mulai terdengar ada irama jazz pundak pun bergerak-gerak.
Waktu UU anti joget lahir di New York aliran musik jazz sudah mulai melanda Amerika. Termasuk melanda Brooklyn yang termiskin di dunia –dunia New York. Maka ada yang menganalisis jazz-lah yang sebenarnya disasar oleh UU itu.
Jazz, kala itu, hanya mampu tampil di pub-pub kecil. Begitu ada UU anti joget mereka kesulitan. Tidak kuat urus izin.
Saya tidak tahu persisnya. Saya harus bertanya ke Perusuh Disway seperti Liang nun di Skandinavia sana.
Orang Brooklyn tidak perlu restoran untuk bergoyang. Toh tidak mampu. Juga tidak cukup berani untuk tetap memainkan jazz. Maka lahirlah hip hop. Di gang-gang Brooklyn.
Zohran sendiri memimpikan kian banyak film, sinetron, dan video independen yang syutingnya di New York. Itu akan mengurangi ketergantungan New York dari perusahaan-perusahaan besar. Kian banyak pula pekerja untuk mendukung kerja kreatif itu.
Rafael sendiri lahir di Brooklyn tapi orang tuanya berasal dari Republik Dominica. Negara itu di Karibia. Di separo pulau di atas Venezuela –di sebelah Kuba.
Ia aktif di gerakan pembelaan apa saja yang jadi korban kapitalisme. Termasuk ikut gerakan membela burung.
Akibat banyaknya gedung tinggi berkaca di New York, ruang gerak burung kian terbatas. Burung tidak bisa mengurus sertifikat ruang di kolong langit. Akibatnya ruang itu lebih banyak dipakai bangunan tinggi. Burung pun tergusur. Yang masih nekat tinggal di udara New York banyak yang mati: menabrak kaca.
Dalam perjuangannya membela burung Rafael menyajikan data: 100 juta burung tewas akibat menabrak kaca. Itu karena burung tidak pernah kenal benda bernama kaca. Yang mereka kenal adalah ranting, daun, atau burung-burung lainnya.
Benda seperti kaca –karena bening– mereka kira udara kosong. Apalagi terlihat juga daun dan pohon di kaca itu. Bahkan ia juga melihat banyak burung lain beterbangan di kaca.
Burung juga tidak bisa membuat proposal: misalnya proposal pelatihan mengenal benda yang bernama kaca.