Neo Pop
Catatan Dahlan Iskan--
Setelah suami meninggal, sang ibu pindah ke Bandung. Semua anaknyi dibawa pindah ke Bandung. Daniel menamatkan SMA-nya di SMA Kristen BPPK Bandung. Suasana politik tahun 1970-an belum stabil. Sebagai Tionghoa ia merasa kurang nyaman.
"Tapi kakak Anda kan justru bisa kuliah di ITB?"
"Iya. Saya saja yang merasa tidak nyaman," katanya.
Maka di usia remajanya itu, 18 tahun, Daniel berkelana. Ingin ke Australia dengan cara terjangkau. Ia melakukan perjalanan darat ke arah timur: Jateng, Jatim, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Kupang, Makassar, Ambon, Sorong, Jayapura, Papua New Guinea, Darwin, Sydney. Sambil berkelana ia bekerja apa saja. Termasuk cuci piring di restoran. Begitu punya uang secukupnya ia pindah lagi. Yang penting cukup untuk transportasi ke tujuan berikutnya. Tidak ada target waktu.
Tiba di Australia ia justru menemukan kenyataan yang lebih rasis. Tiga bulan di sana ia pergi ke Portugal. Dengan cara yang sama. Lalu ke Spanyol, ke Jerman, dan ke mana saja. Total sudah 151 negara ia kunjungi.
Di Jerman ia jatuh cinta dengan seorang gadis Venezuela.
"Berarti dia cantik sekali. Bukankah dari 10 gadis Venezuela yang cantik 15?"
"Iya. Cantik sekali," jawabnya.
Daniel pun diajak pulang ke Maracaibo, kota pantai yang indah di teluk bagian barat Venezuela. Ternyata gadis itu anak seorang pemilik hasienda –perkebunan dan peternakan besar. Tapi kakak-kakak lelaki gadis itu tidak suka kepada Daniel yang pengangguran –bagi pebisnis besar melukis sering dianggap pekerjaan orang yang menganggur.
Setelah enam bulan di Maracaibo, Daniel pergi ke perbatasan. Ia menyeberang ke Colombia. Di situ ia bekerja pada seorang wanita muda pekerja sosial. Akhirnya jatuh cinta, entah siapa yang lebih dulu jatuh cinta.
Cintanya hanya beberapa bulan. Daniel menyeberang lagi perbatasan: ke Peru. Dari Peru Daniel kembali ke Eropa. Ketika tiba di Polandia ia jatuh cinta kepada wanita setempat. Sampai punya dua anak. Pisah. Daniel pun ke Jerman. Jatuh cinta lagi dengan wanita Jerman. Punya dua anak. Pisah. Ketemu lagi wanita dari Hawaii. Tentu tidak lama juga.
Beberapa tahun kemudian Daniel ketemu mantan istri Hawaii-nya itu di Jerman. Sangat kebetulan. "Kamu punya anak lho di Hawaii," ujar sang mantan. "Laki-laki".
"Wah, harus tes DNA," jawab Daniel.
Tet pun dilakukan. Benar. Itu anaknya Daniel. "Sampai sekarang saya masih berhubungan dengan semua anak saya," katanya.
Lalu, di Jerman pula Daniel ketemu adik Seno Nugroho. Kawin. Punya dua anak. "Perkawinan saya yang paling lama ya dengan adik dalang Seno itu," kata Daniel.