Air Pohon

Catatan Dahlan Iskan--

Oleh: Dahlan Iskan

Di depan orang Huai An saya pun berkata: "akhirnya saya tahu mengapa peradaban di Huai An ini maju. Termasuk mengapa tingkat pendidikan penduduknya tinggi. Banyak orang pintar. Banyak orang sukses. Termasuk Anda. Semua itu ternyata ada hubungannya dengan proyek Great Canal di masa lalu".

Teman saya yang sukses itu merendah. Ia kirim tulisan satu kalimat yang penuh arti. Sarat diplomasi. Berusaha ganti memberi pujian yang tinggi.

Inilah kalimat itu: "Pak Iskan, kami adalah air kanal Huai An, Anda adalah pohon menjulang tinggi Indonesia. Ini adalah pepatah terkenal dari I Ching Tiongkok: Air menyehatkan pohon, pohon kayu menghasilkan kekayaan" (我们是淮安的运河水 你是在印尼的苍天大树, 这是中国的易经名言, 水生木 木生财).

Mungkin Liang di Denmark dan Wilwa di Jakarta bisa memberi skor: seberapa tinggi kualitas literasi satu kalimat itu –skala satu sampai 10. Yang jelas saya belajar banyak dari kalimat itu: kalau memuji orang baiknya lewat puisi. Jangan seperti saat saya memuji Jayanti Zainal Halo BCA tempo hari –yang sampai membuat perusuh Disway pada cemburu.

Saya pun minta diantar ke Great Canal yang jaraknya terdekat dari Huai An. Saya tahu peran Great Canal sudah tidak sepenting zaman dulu. Bahkan sudah tidak penting sama sekali. Sudah digantikan jalan raya. Sudah kalah dengan rel kereta api. Apalagi setelah ada jalan tol dan kereta cepat. Saya bayangkan Great Canal sudah ditinggalkan. Diabaikan. Telantar. Sudah jadi parit yang menyempit dan mendangkal.

Saya pun membayangkan akan dibawa naik mobil ke arah luar kota Huai An. Di sana akan bisa melihat sisa-sisa kejayaan Great Canal, meski sejak lebih 100 tahun lalu sudah kehilangan peran pentingnya sebagai pusat logistik negara.

Untuk melihat Great Canal itu teman itu pun memberi tawaran ke saya: naik mobil atau jalan kaki.

"Jalan kaki?" tanya saya terheran-heran.

"Iya. Jalan kaki. Hanya 1 km dari sini," ujarnya.

Waktu itu kami lagi di pusat kota Huai An. Kota sangat kecil. Kota kecamatan. Tapi punya museum modern di pusat kotanya.

Tidak menyangka: ternyata Great Canal itu mengalir melewati tengah kota Huai An. Atau saya terbalik: kota ini dulunya sengaja dibangun di pinggir Great Canal. Boleh dikata sebelum ada Great Canal belum ada kota Huai An. Berarti umur kota Huai An sama dengan umur Great Canal: 1000 tahun lebih.

Jalan raya di depan museum itu, 1000 tahun lalu, adalah jalan penghubung antara kantor syahbandar dengan pelabuhan. Museum itu sendiri dulunya adalah kantor itu: kantor bea cukai, syahbandar, dan administrator pelabuhan.

Semua kapal wajib berhenti bersandar di pelabuhan Huai An. Nakhodanya turun dari kapal, berjalan kaki ke gedung pengelola pelabuhan: membereskan segala macam administrasi dan pembayaran.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan