Air Pohon
Catatan Dahlan Iskan--
Di lokasi bekas gedung itu kini tinggal terlihat beberapa bekas batu pondasinya. Sisa temboknya pun sudah tidak ada. Bekas lokasi gedung paling belakang kini untuk museum. Bekas lokasi gedung paling depan dipagari rendah agar wisatawan bisa melihat sisa-sisa batu pondasi.
Setelah melihat museum kami menuju Great Canal. Benar. Kanalnya sudah seperti sungai biasa. Tapi kanan kirinya masih terjaga. Tidak ada bangunan di pinggir sungai –apalagi bangunan kumuh. Kanan-kiri sungai masih terjaga sebagai tanah kosong. Ditanami pohon-pohon keras.
Saya pun jalan kaki menuju pinggir sungai. Rumput tinggi itu saya sepak-sepak pakai sepatu untuk memastikan ada tanah keras yang bisa saya lewati. Sampai pinggir sungai terlihat ada kapal tongkang berhenti. Ujung tali besar tongkang itu diikatkan ke pohon besar di pinggir sungai. Saya amati tongkang itu: panjang sekali. Rupanya empat tongkang digandeng jadi satu rangkaian. Di bagian depannya ada kapal penarik tongkang.
Kapal itu berhenti di Huai An tidak lagi karena harus melapor ke syahbandar. Hanya mau istirahat. Kapal-kapal lain melaju di tengah kanal. Umumnya tongkang.
Ternyata kanal ini masih ramai dengan lalu-lintas kapal. Meski tidak lagi penting tapi masih berfungsi.
Di masa nan lalu Huai An dijadikan pusat administrasi logistik Great Canal karena posisinya. Bukan hanya di tengah jarak antara Hangzhou dan Beijing (1800 km), tapi juga karena Huai An terhubung dengan Huang He (Sungai Kuning) –lewat anak sungainya. Zaman itu Huang He masih bermuara di bagian selatan Shandong. Belakangan muara sungai Huang He pindah jauh ke utara.
Anda sudah tahu: perpindahan muara sungai Huanghe itu terkenal yang paling ekstrem dalam sejarah. Pindahnya sejauh lebih 600 km. Ibarat sungai Citarum yang dulunya bermuara di Bekasi, pindah bermuara di Rembang. Itu terjadi di tahun 1850-an ketika terjadi banjir besar Sungai Kuning. Saking besarnya air 'melompat' ke arah lain.
Rasanya saat itu pula kota Kaifeng tenggelam. Tertimbun pasir. Kota besar Kaifeng yang sekarang berada di atas kota Kaifeng di zaman Judge Bao –hakim paling adil yang sudah Anda kenal itu. Judge Bao jadi hakim di zaman Great Canal dibangun.
Air kanal itulah yang selama ini memakmurkan kota Huai An. Juga yang membuat peradaban literasinya tinggi. Untuk menjadi pegawai dan pejabat yang mengelola kanal diperlukan SDM berkualitas tinggi. Pendidikan di situ pun berkualitas –karena meritokrasi dijalankan dengan baik.
ini air sungai kanal masih mengaliri Huai An, dan orang di sana masih bisa menghibur hati kita: Indonesialah tempatnya pohon bisa tumbuh tinggi.(Dahlan Iskan)