WFH Sarengat

Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menegaskan bahwa kebijakan Work From Home (WFH) tidak wajib diterapkan setiap hari Jumat, khususnya bagi karyawan swasta.-Dok. Kemnaker-

"Menuliskan yang akan dikerjakan, mengerjakan yang ditulis".

Maka pekerjaan semua pegawai adalah menulis: Kamis sore menulis apa yang akan dikerjakan di hari WFH-Jumat, Jumat sore menulis apa yang sudah dikerjakan di hari itu.

Di era serba software sekarang ''manajemen produktivitas'' seperti itu bisa lebih sederhana lagi. Atasan dan semua bawahan menggunakan aplikasi yang sama: upload tulisan dilakukan di aplikasi yang sama. Atasan bisa melihat sendiri di aplikasi. Bahkan atasan yang levelnya lebih tinggi bisa mengakses aplikasi itu. 

Atasan dan bawahan bisa baca semua yang ditulis dan dikerjakan di hari WFH. Atasan yang lebih tinggi juga bisa menilai atasan yang menjadi bawahannya. 

Atasannya atasan juga bisa menilai bawahannya bawahan. Dengan demikian bisa diketahui apakah di level yang lebih bawah ada bibit-bibit unggul untuk dipromosikan kelak.

Tapi itu bisa berjalan kalau meritokrasi dilaksanakan di semua level. 

Budaya menulis yang akan dikerjakan dan mengerjakan yang telah ditulis memang hanya terjadi di negara maju atau di negara yang ingin maju. 

Di negara tertentu sudah banyak juga yang mencoba menulis apa yang akan dikerjakan. Tapi yang sudah ditulis itu besoknya tidak dikerjakan. Alasannya banyak. Salah satunya karena muncul tugas dadakan dari atasan. 

Maka atasan harus tahu –dari aplikasi– kepada siapa tugas dadakan itu diberikan. Harusnya diberikan kepada bawahan yang  rencana kerjanya kalah penting dengan tugas dadakan itu. 

Masalahnya: banyak tugas dadakan yang sebenarnya sama sekali tidak penting. Misalnya mewakili atasan untuk membacakan sambutan tertulis.

Di acara-acara tertentu saya sudah mulai melakukan ini: yakni kalau atasan yang kami undang mewakilkan ke bawahannya. Biasanya sang bawahan saya bisiki di ruang transit: bagaimana kalau sambutan tertulis itu kami perbanyak dan kami bagikan saja. Tidak usah dibacakan. 

Dari pengalaman saya sang bawahan justru senang dengan bisikan saya seperti itu. 

Menulis yang akan dikerjakan biasanya sudah banyak yang mencoba. Tapi menuliskan apa yang sudah dikerjakan biasanya banyak yang lupa. Atau takut ketahuan: yang sudah dikerjakan ternyata tidak banyak. Tidak sebanding dengan gaji bulanan berikut tunjungannya.

Saya bukan lagi bawahan. Juga bukan lagi atasan. Apalagi istri saya suka masak, sehingga saya tidak perlu masak..

Apakah saya juga disiplin mengerjakan prinsip menulis yang akan saya kerjakan? 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan