Oleh: Dahlan Iskan
Saat penerbangan pulang dari Nanning (lewat Guangzhou) saya menulis naskah ini. Sesekali menerima sapaan penumpang asal Surabaya, Malang, dan Bali. Mereka satu pesawat kembali ke tanah air.
Ada dua grup besar di ruang tunggu. Semua Tionghoa. Mayoritas wanita senior. Grup A, 27 orang sedang transit dari Harbin nun di dekat Rusia. Grup B, 25 orang, transit dari Shangri-La dan Lijiang di Kunming.
Yang berwisata ke Shangri-La itu tergabung dalam grup angklung. Nama grupnya: Pitik Cilik. Itu karena waktu kali pertama berlatih sang pelatih mengajarkan lagu Pitik Cilik. Setelah itu lagu Cublek Suweng. Kini mereka mahir berangklung lagu apa saja.
"Berapa lama berwisata ini?"
"12 hari," jawab ketuanya.
"Menyenangkan?"
"Senang. Tapi juga menyiksa,"
"Kenapa?"
"Kangen banget sayur asam dan sambal terasi. Kangennya sampai ubun-ubun," katanyi.
"Nggak bawa makanan Indonesia?"
"Bawa. Banyak. Tapi tiga hari sudah ludes," katanyi. Dia pun merinci apa saja yang dibawa: sambal terasi, bumbu pecel, kerupuk...
Mereka semangat sekali pulang. Ingin cepat-cepat makan rawon!
Di pesawat saya tidak bisa lagi ngobrol dengan mereka. Saya punya komitmen membaca novel ini sampai selesai: To Live. Karya Yu Hua. Sudah diterjemahkan ke 20 bahasa, termasuk Indonesia: Judulnya: Hidup.
Maka saya cepat-cepat menulis apa saja. Kebetulan masih ada satu bahan yang ingin saya tulis: museum masa kecil Bung Karno di Mojokerto.