Anak Telur

Catatan Dahlan Iskan--

Sepanjang hari kemarin saya berkomunikasi dengan para pengusaha yang punya dapur MBG. Di Jateng dan Jatim. Salah satunya punya empat dapur. Menurut mereka sebulan terakhir terjadi perubahan besar. "Investasi dapur MBG sekarang tidak bisa lagi Rp 700 juta atau Rp 800 juta. Sudah menjadi Rp 1,2 miliar," katanya. "Pelet untuk menaruh karung beras pun kini harus stainless steel," kata sahabat Disway itu. "Tidak boleh lagi kayu," tambahnya.

Demikian juga telenan --alas untuk mengiris bawang atau cabe-- tidak boleh lagi kayu. Harus plastik. "Pokoknya alat yang diperkirakan bisa menjadi penyebab munculnya jamur tidak boleh dipakai," katanya.

Yang paling mahal adalah pengolahan limbah. Kini pengolahannya harus lima step --lima pengendapan air. Di tahap terakhir air limbahnya harus diisi ikan. Ikannya harus hidup pertanda tidak ada racun.

"Berarti tidak bisa lagi setahun balik modal?"

"Dulu delapan bulan bisa balik modal. Sekarang 1,5 tahun," jawabnya.

"Masih baguslah..." komentar saya.

"Iya, masih bagus".

Sudaryono tidak punya waktu lagi untuk trial and error. Ia sudah harus langsung tancap gas. Sudah telanjur terlalu banyak petani/peternak yang tergantung ke MBG --harga telur, sayur, dan ayam jatuh saat MBG diliburkan di saat liburan panjang sekolah.

Anak cukup gizi kini yang mengurus makan anak bergizi. Juga yang urus dana ratusan triliuan yang membuat orang seperti Deyang ngeri sendiri. (Dahlan Iskan)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan