Tiket Lungsuran
Catatan Dahlan Iskan--
Hotel yang hanya bintang empat ini Rp 8 juta/malam. Tambah sekali sarapan sederhana Rp 2 juta. Padahal sarapannya hanya tiga menu: tiga biji telur rebus, bubur oatmeal, dan roti Brooklyn Bagel satu biji.
Sebagai ganti tidak mau tidur di rumah Lia, saya minta dari bandara langsung ke makam. Sampai 40 harinya itu tiap hari Lia masih ke makam James. Masih menangis. Masih bicara sendiri dengan suami seolah James masih di sampingnyi.
Makamnya tidak jauh dari rumahnyi: 15 menit. Ini makam Katolik yang sudah ratusan tahun umurnya. Besar sekali. Nisan-nisannya banyak yang sudah kuno dan begitu di dalamnya terasa seperti lagi ikut tampil di adegan pemakaman film The Godfather.
Di situ James bisa satu ''RT'' dengan keluarga orang-orang terkenal. Juga dengan tokoh masa silam yang terhubung dengan keluarga The Godfather. Nama-nama di makam ini mayoritas memang nama Italia.
Dari makam itulah kami ke gereja: kebaktian 40 hari James. Khotbah pak pendeta Rolland Samson mengenai kelahiran Ismail, anak Ibrahim dari istri Hagar (Hajar): bagaimana sang ibu bersusah payah cari air ke gunung untuk bayinya sampai Tuhan membukakan mata Hagar bahwa di situ ada sumber air yang tadinya tidak terlihat. Lia yang lagi susah bisa belajar dari kisah penderitaan Hagar yang terbuang saat itu.
Kebaktian pun diakhiri dengan sambutan saya dan Lia. Lalu makan malam yang salah satu menunya: daging rendang.
Lia masih harus menjamu banyak tamunyi di gereja itu. Jangan tinggalkan mereka untuk mengantar saya ke hotel. Lia pun minta putranyi, Ericjuno, yang antarkan saya ke hotel.
Untuk malam pertama itu saya pilih hotel di Long Beach. Keesokan harinya baru ke Manhattan. Ini sama juga mahalnya dengan yang di Manhattan. Hanya agar Eric tidak terlalu jauh pulang ke rumahnya di daerah itu. Dan lagi besok paginya teman dari Indiana terbang ke New York untuk bertemu saya. Bisa bertemu di rumah Lia yang di Long Beach.
Anda juga sudah tahu nama teman dari Indiana itu: Maya. Mayasari. Yang bikin pabrik tempe di Amerika dan kini berkembang dengan sangat baik: Maya Tempeh.
Maka ''perusuh'' yang tulisannya bermutu seperti Agus Suryonegoro juga benar dalam segala prediksinya: saya ke New York untuk nonton Piala Dunia tapi tidak hanya itu.
Kombinasi perkiraan Bung Agus benar semua (Disway 24 Juni 2026: Wani 2727). Saya tidak bisa bersembunyi lagi: perusuh bisa menebak apa pun langkah saya. Ke mana pun.(Dahlan Iskan)