Mulai Move-on
Catatan Dahlan Iskan--
Lalu pabrik CPO-nya di bawah PT pengolahan. Perusahaan tersendiri pula. Perusahaan pengolahan CPO ini membeli bahan baku dari perusahaan kebun. Bahkan bisa saja ada perusahaan khusus eksporter. Perusahaan dagang ini membeli CPO dari perusahaan pengolahan.
Padahal yang akan dikoordinasikan oleh PT DSI adalah perusahaan eksporter. Bukan perusahaan pembibitan, bukan perusahaan perkebunan, bukan perusahaan pengolahan.
Selama ini belum tentu PT yang membawahi pabrik CPO punya izin ekspor. Yang memiliki izin ekspor adalah perusahaan eksporter. Maka dalam menentukan "laba yang wajar" harus dilihat berapa perusahaan eksporter itu membeli barang ekspornya dari pabrik pengolahan sawit –sebagian milik perusahaan eksporter sendiri, sebagian membeli dari pabrik pengolahan milik perusahaan lain.
Untuk menentukan laba yang wajar itu, awalnya saya ingin menyarankan pakai formula "cost +". Atau bisa juga pakai formula "cost ++'. Bisa juga "cost +++".
"Cost +" adalah biaya ditambah suku bunga. Kalau "cost ++" biaya ditambah suku bunga dan biaya inflasi. Sedang "cost +++" ditambah biaya pemeliharaan atau insentif produktivitas. Bahkan kalau mau plusnya ditambah satu lagi: plus keempat adalah biaya riset.
Banyak perusahaan sawit yang melakukan riset yang sangat serius. Riset benih. Riset pupuk. Riset hama. Ini harus ada nilai dan penghargaannya.
Memasukkan biaya pemeliharaan juga amat penting agar kebun terpelihara dengan baik. Jangan sampai pengusaha putus asa: mengabaikan pemeliharaan –akhirnya seperti ayam petelur yang disembelih ayamnya.
Tapi formula "coat +" itu menjadi abstrak mana kala perusahaan eksporter tidak berurusan dengan kebun. Ia membeli barang ekspor dari pabrik pengolahan. Dalam hal begini yang bisa dilakukan hanya formula cost + inflasi dan suku bunga.
Yang jelas perlakuan kepada sawit harus lebih bagus daripada kepada batu bara. Dalam hal sawit pengusaha masih harus riset, membibit, menanam, memelihara, dan mengolah. Perlu otak dan kesabaran. Memiliki kebun sawit sama dengan memelihara benda hidup: bernyawa, bisa sakit, bisa mati, bisa kena wabah dan bisa ngambek.
Pengusaha sawit kelihatannya sudah dalam proses move-on. Petani sudah tidak cemas lagi. Pengusaha sudah mulai berhitung "laba saya akan turun menjadi berapa". (Dahlan Iskan)