Kemendiktisaintek Usut Dugaan Riset Palsu oleh WNI di Forum Internasional

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, usai bertemu Prabowo di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Senin (4/5). -Foto: dokumentasi Biro Pers Istana-

JAKARTA.RADARLEBONG.BACAKORAN.CO - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyebut pihaknya segera melakukan penyelidikan setelah mendengar kabar riset palsu oleh peneliti Indonesia di forum internasional. 

Menurutnya, penyelidikan dikakukan terkait status terduga pelaku, bentuk afiliasi yang digunakan, serta keterkaitan dengan institusi ikut dalam forum.

"Saat ini kami terus melakukan koordinasi dan pendalaman bersama pihak terkait untuk memastikan fakta-fakta yang sebenarnya," kata Brian kepada wartawan, Kamis (28/5).

Namun, dia mengatakan pihaknya menerapkan kehati-hatian dalam penyelidikan, termasuk membuka ruang klarifikasi terduga pelaku.

"Setiap dugaan perlu diverifikasi secara objektif berdasarkan bukti serta mekanisme yang berlaku di lingkungan akademik dan penelitian," ujarnya.

Brian mengatakan kasus dugaan riset palsu WNI dikhawatirkan berdampak ke persepsi internasional terhadap integritas peneliti Indonesia. 

Hanya saja, dia menekankan semua pihak perlu melihat kasus riset palsu secara proporsional, karena Indonesia memiliki sangat banyak peneliti, dosen, mahasiswa, dan inovator.

Brian menyebut tidak sedikit peneliti hingga dosen bekerja secara profesional, menjunjung standar etik dan integritas yang baik, memiliki reputasi, serta terus menghasilkan riset yang diakui internasional.

"Oleh karena itu, kasus yang melibatkan segelintir pihak tidak boleh menutupi capaian dan kerja keras komunitas ilmiah Indonesia secara keseluruhan," ujarnya.

Brian mengatakan informasi awal yang diterima Kemendiktisaintek, pihak yang disebut dalam kasus riset palsu tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. 

"Namun demikian, persoalan ini tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas," kata dia.

Brian menuturkan Indonesia memiliki mekanisme tata kelola integritas riset melalui perguruan tinggi hingga komite etik.

Dia mengatakan penelitian yang dilakukan oleh dosen di Indonesia, prosesnya berada dalam koridor pemantauan berkala yang ditujukan menjaga mutu hasil penelitian. 

Sejak tahap pengajuan proposal, ungkap Brian, penelitian melalui proses penilaian bertingkat, mulai dari LPPM hingga tim Kemdiktisaintek.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan