Kelapa Gading

Catatan Dahlan Iskan--

Maka petugas cukup mendorong tongkat beroda itu keliling lantai rumah baru. Pukulan yang digerakkan roda itu menimbulkan suara. Dari suara keramik bisa diketahui apakah di bawahnya ada rongga. Rongga itu akan menyebabkan keramik pecah di masa depan.

"Kami mendapat 15 hak paten," ujar Adhi. Sertifikat patennya juga dipajang di situ. 

Di Summarecon rupanya bekerja pun harus sambil berpikir. Itu pula yang pernah saya sampaikan waktu berkunjung ke proyek jalan tol tersulit di Indonesia: Semarang-Sayung –arah Demak. Melihat tingkat kesulitannya rasanya lima doktor bisa lahir dari proyek itu. Juga beberapa hak paten.

Mereka harus terus melakukan penelitian atas tingkat kesulitan yang begitu tinggi: di bawah lokasi proyek itu seperti tidak ada dasar. Hanya air dan lumpur. Sedalam apa pun. Lokasi itu seperti sudah menjadi perluasan laut Jawa ke arah selatan. Akhirnya diputuskan untuk menggunakan fondasi bambu yang diapungkan.

Tentu penggarapannya akan sangat lama. Mungkin karena tidak sabar kemarin beredar video seolah jalan tol Semarang-Sayung-Demak sudah bisa dilewati. Di video itu terlihat mulusnya. Juga indah pinggir lautnya. Memang akan seperti itu kalau jadi. Kelak.

Di ruang lain Discovery ditampilkan perjalanan hidup sang pendiri. Tapi Soetjipto dikenal sebagai orang yang sangat low profile. Anda sudah tahu: nama Soetjipno jarang dikibar-kibarkan. Hanya sesekali muncul di daftar salah satu dari 50 orang terkaya Indonesia.

Tapi perancang Discovery tidak habis akal. Diciptakanlah sosok Soetjipto dan istri lewat artificial intelligence. Lalu dibuatkan videonya. Misalnya saat Soetjipto-AI main tenis dan berenang. Begitulah AI bisa menggambarkan perjalanan hidupnya secara lengkap.

"Apakah beliau pernah berkunjung ke sini?"

"Tentu pernah. Beberapa kali. Sering juga membawa tamu ke sini," ujar Adhi.

"Apakah setuju dengan penggambaran dirinya lewat AI itu?"

"Beliau tidak ada komentar. Hanya senyum-senyum," katanya. 

Dari Discovery ini saya baru tahu bahwa sejarah Soetjipto sudah amat sangat panjang di republik ini. Ia sudah keturunan ke-22 yang lahir di Indonesia –sejak nama itu belum ada. Kakek buyutnya adalah salah seorang pendiri ITB.

Soetjipto sendiri alumnus teknik kimia ITB. Ia berbuat banyak untuk almamaternya itu. Satu hektare tanah di Summarecon Bandung dijadikan pusat inovasi ITB. ITN Innovation Park Bandung Technopolis.

Pun sebagai alumnus SMA Pahoa, Jakarta. Soetjipto juga menyisihkan tanah untuk menghidupkan kembali sekolahnya yang sudah lama mati –lebih tepatnya dimatikan di tahun 1966. 

Pahoa adalah sekolah Tionghoa yang sangat terkenal. Larisnya maupun mutunya. Kata ''Pa'' diambil dari nama jalan di depan sekolah itu: Jalan Patekoan. Kata ''Hoa'' dari Tionghoa. Lokasinya di Jakarta Kota. Jalan Patekoan kini bernama Jalan Perniagaan. Ketika Orde Baru menutup Pahoa, gedung sekolahnya untuk SMAN 19 Jakarta. Sampai sekarang.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan