Nilai Tukar Rupiah Merosot Hingga ke Angka Rp 17.300 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah Merosot Hingga ke Angka Rp 17.300 per Dolar AS--
RADARLEBONG.BACAKORAN.CO- Pasar keuangan Indonesia dikejutkan dengan kabar kurang sedap pada pagi hari ini, Kamis, 23 April 2026. Nilai tukar rupiah resmi menembus level psikologis baru yang sangat mengkhawatirkan, yakni merosot hingga ke angka Rp 17.300 per Dolar AS (USD).
Angka ini bukan sekadar angka biasa; ini adalah alarm keras bagi stabilitas ekonomi nasional yang saat ini tengah dihantam badai ketidakpastian global.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.35 WIB, mata uang Paman Sam sempat menyentuh posisi Rp 17.310. Posisi ini mencatatkan rekor sebagai level terlemah rupiah secara intraday dalam sejarah ekonomi Indonesia.
Penurunan tajam sebesar 0,79% dari penutupan hari sebelumnya di Rp 17.180 menunjukkan betapa masifnya tekanan jual yang dialami mata uang Garuda.
BACA JUGA:Update Tabel Angsuran KUR BRI 2026: Pinjam Rp10 Juta, Angsuran Hanya 200 Ribuan!
Faktor Utama Penyebab Pelemahan Rupiah
Fenomena melemahnya rupiah tidak terjadi di ruang hampa. Ada beberapa faktor fundamental dan sentimen global yang menjadi pemicu utama mengapa rupiah tembus Rp 17.300:
Eskalasi Konflik di Timur Tengah: Ketegangan geopolitik yang terus memanas memaksa para investor global untuk meninggalkan aset berisiko di pasar berkembang (emerging markets) dan beralih ke aset aman atau safe haven, terutama Dolar AS dan emas.
Ketidakpastian Kebijakan Moneter AS: Meski inflasi di beberapa negara mulai melandai, kebijakan suku bunga bank sentral AS tetap menjadi jangkar yang menarik modal keluar dari Indonesia (capital outflow).
Sentimen Regional yang Negatif: Sebagian besar mata uang di Asia mengalami tekanan serupa, namun rupiah tercatat sebagai yang paling terdampak.
Langkah Strategis Bank Indonesia: Intervensi Total
Menghadapi situasi darurat ini, Bank Indonesia (BI) langsung mengambil langkah proaktif. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa BI akan terus berada di pasar untuk memastikan volatilitas tetap terkendali.
"Intervensi yang berkesinambungan akan terus kami lakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik," ujar Destry mengutip dari fin.co.id
Strategi BI saat ini terfokus pada tiga pilar utama: