Afifah Shahnameh
Catatan Dahlan Iskan--
Oleh: Dahlan Iskan
Saya belum pernah membaca buku terkenal ini: Shahnameh. Saya ingin membacanya tapi sulit mendapatkannya.
Anda sudah tahu: Shahnameh memang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris: The Persian Book of Kings. Ada juga terjemahan dengan judul lain: saya sulit memilih yang mana; yang diterjemahkan oleh siapa.
Saya harus bertemu dulu dengan orang yang pernah membacanya –dalam bahasa aslinya: Persia. Akhirnya saya bertemu si dia: Afifah Ahmad. Wanita Bandung asal Semarang yang tumbuh sebagai anak-anak di Purwakarta.
Afifah lulusan sastra Parsi dari Az-Zahra University, Teheran. Di sana Afifah masuk S-1 sampai S-2. Itulah universitas khusus untuk perempuan. Program studinya banyak; mulai fisika, teknik, sampai sastra. Ada juga jurusan studi perempuan.
Di sana, mahasiswa jurusan apa pun awalnya harus mengambil mata kuliah yang satu ini: sastra kepahlawanan. Dua semester.
Bacaan wajib mata kuliah ini adalah Shahnameh –kisah raja-raja.
Itulah buku yang membentuk karakter orang Iran untuk tetap menjadi orang Parsi.
Keparsian orang Iran pernah terancam punah. Yakni ketika wilayah itu ditaklukkan oleh Arab –di masa khalifah Umar bin Khattab.
Terjadilah proses arabisasi Parsi. Itu bersamaan dengan datangnya Islam dari Arab. Proses itu berlangsung lebih 200 tahun. Dari zaman Umar berlanjut ke era dinasti Ummaiyah –yang berpusat di Damaskus, Suriah. Lanjut lagi ke dinasti Abbasyiah yang berpusat di Baghdad, Irak. Dua-duanya kerajaan Arab.
Setelah dinasti Abbasyiah mengalami kemunduran, di wilayah Parsi muncul kerajaan lokal: Samaniyah. Pusat pemerintahannya di Bukhara, yang sejak lama di bawah pengaruh Parsi –sekarang Bukhara masuk negara Uzbekistan.
Penulis hadis Nabi Muhammad yang paling terpercaya adalah orang dari Bukhara: Imam Bukhari.
Di zaman Samaniyah ini terjadilah proses re-Persiaisasi. Kembali ke jati diri Parsi. Tap tidak bisa sepenuhnya menghilangkan pengaruh Arab. Sudah lebih dua abad Arab menguasai Parsi. Terutama dalam hal agama: tetap Islam. Dalam hal ini Syi'ah.
Afifah tidak hanya sampai S-2 di Iran. Dia lanjut sampai 10 tahun di sana. "Suami saya dapat pekerjaan di Teheran," ujar Afifah. "Jadi dosen mata kuliah politik Asia Tenggara," tambahnyi.