Hotel Syiah

Catatan Dahlan Iskan--

Saya sendiri harus berdamai dengan perusuh Disway –seperti di komentar kemarin: hari ini sebaiknya menulis yang ringan-ringan saja. Inilah hasilnya. Ternyata tidak mudah menulis yang ringan. Lebih mudah membahas materi perundingan yang serius. Tinggal kutip sana-sini. 

Sedang untuk tulisan hari ini saya harus mengingat kunjungan saya ke Pakistan beberapa tahun lalu. Untung kejiwaan saya tidak menurun drastis tahun-tahun terakhir. Saya masih ingat waktu itu lewat di depan Hotel Serena dan saya banyak bertanya tentang siapa di balik hotel itu.

Akhirnya saya harus menulis yang Anda sudah tahu tadi: siapa pemilik hotel ini. Orang kaya itu adalah Shah Karim al-Hussaini. Gelarnya: Agha Khan IV. 

Al Hussaini lahir di Swiss. Usianya 88 tahun ketika meninggal dunia tahun lalu. Ia meninggal di rumahnya di Lisbon, Portugal. Ia punya kewarganegaraan lima negara tapi punya rumah di banyak negara.

Setelah ia meninggal, aliran Islam syi'ah Nizari Ismaili dipimpin anaknya: Agha Khan V.

Pakistan yang miskin memang punya beberapa konglomerat kaya. Di samping Agha Khan masih ada konglomerat Syahbas Syarif: perdana menteri Pakistan sekarang --yang seluruh keluarganya jadi pejabat tinggi di berbagai level dan kedudukan. 

Syahbas Syarif-lah yang kini jadi tuan rumah peristiwa penting perundingan Iran-Amerika. Harus sukses --termasuk demi ekonomi Pakistan sendiri.

Keamanan Pakistan pun dijaga ketat. Sepuluh ribu polisi dan tentara mengamankan Islamabad. Ibaratnya: jarum jatuh pun mereka harus dengar suaranya. Tapi rakyat Pakistan, kemarin, tetap saja harus berjuang cari makan. Termasuk harus berebut untuk naik bus seperti terlihat di foto. (Dahlan Iskan)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan