Carilah Muka
Catatan Dahlan Iskan-foto :disway.id-
Kami semua turun dari mobil. Ke toilet yang berdebu. Lalu masuk masjid. Tidak ada karpet di lantainya. Hanya ada keramik. Debunya terlihat tebal di atas keramik itu.
Awalnya saya agak ragu salat di lantai berdebu seperti itu. Ada rasa jijik. Masak dahi ini harus menempel ke debu itu. Sudah terlalu lama biasa salat di masjid ber-AC dan berkarpet tebal di Indonesia. Jijiknya bukan main. Apalagi kaki yang basah oleh air wudu harus menginjak debu di lantai masjid. Muncul jejak-jejak telapak di lantai.
Setelah termangu sejenak saya ingat: inti salat adalah merendahkan hati serendah-rendahnya. Itulah mengapa harus rela menaruh muka yang sering dipakai cari muka ini ke tempat terendah di atas bumi: lantai. Tanah. Debu adalah tanah. Ke lantai berdebu itulah wajah basah ini kusujudkan. "Rasakan," kata saya dalam hati kepada diri sendiri: "carilah muka di situ," kata saya lagi. "Tidak ada lagi tempat mendongakkan kesombongan di situ."
Di situ, di lantai berdebu itu, sujud justru perlu lebih berlama-lama.(Dahlan Iskan)