Hari Kemenangan?
ilustrasi--
Betapa malunya: Trump akhirnya sampai minta tolong Tiongkok. Agar Tiongkok mau turun tangan. Lebih malu lagi: yang diminta tidak bersedia. Sampai Trump menyatakan akan membatalkan kunjungannya ke Beijing tanggal 31 Maret depan.
Jelaslah sehebat-hebat serangan udara tidak menghasilkan yang ingin dicapai. Memang serangan udara itu menewaskan tokoh utama Iran --dan banyak tokoh penting lainnya-- tapi tujuan Amerika mengganti pemerintahan Iran gagal.
Trump bukan orang yang mudah menyerah. Ia justru ingin membuktikan bahwa Amerika tidak mungkin bisa dikalahkan biar pun seorang diri. Itulah yang akan terjadi satu dua hari ini: Amerika akan menunjukkan kehebatannya di mata lawan pun sekutunya.
Di manakah 2.500 pasukan khusus itu akan mendarat? Di pantai? Diterjunkan dengan parasit? Langsung di jantung ibu kota Teheran? Atau diterjunkan di Iraq, dekat perbatasan dengan Iran?
Jangan-jangan mereka diterjunkan langsung di jantung ibu kota Teheran --dengan asumsi Teheran sudah ditinggalkan para pimpinan negara untuk menghindari serangan bom? Lalu dengan kemampuannya sebagai pasukan khusus menguasai satu sudut ibu kota --sebagai pijakan? Kemudian memperluasnya lewat operasi Rambo?
Trump tentu membayangkan operasi seperti itu. Di matanya itu sangat heroik. Sangat Amerika. Sangat Hollywood. Lalu rakyat di sana bangga kepadanya.
Tentu bisa saja pasukan khusus marinir itu tidak untuk melakukan pendaratan. Siapa tahu hanya untuk meningkatkan gertakan.
Hari ini atau besok puasa hari terakhir di bulan Ramadan tahun ini. Besok atau lusa adalah hari raya Idulfitri yang juga disebut sebagai hari kemenangan --menurut para juru khotbah di mimbar Idulfitri.
Umat Islam-lah yang mengakhiri berpuasa sebulan penuh. Amerika yang ingin meraih kemenangan di Idulfitri ini.(Dahlan Iskan)