XCMG Mlilir
--
Berarti saya harus naik dua tangga tinggi: tangga di samping truk dan tangga lanjutan di bagian lain truk itu. Lalu masuk ruang kemudi: luas sekali. Di sebelah kemudi bisa dihampar kasur ukuran king size. Saya pun ditawari duduk di atas kemudi. Tapi tidak ditawari menjalankannya.
Dari pabrik cangkul bisa berkembang seperti ini. Dari atas super truk itu saya ingat teman saya di Mlilir, kabupaten Ponorogo: Agus Imron. Ia memproduksi alat-alat pertanian. Waktu saya menjadi sesuatu, saya ke pabriknya. Saya curhat kepadanya: sulit cari alat pertanian produksi dalam negeri. Misalnya mesin panen padi. Lebih sulit lagi mesin tanam padi.
Akhirnya Agus Imron mampu membuatnya. Saya pun minta diuji coba di sawah. Saya berencana BUMN pupuk membelinya beberapa buah. Untuk diberikan ke kelompok tani. Sekalian mendukung pengembangan industri dalam negeri. Harapan saya begitu tinggi pada Agus: bisa jadi raksasa produsen alat pertanian.
Setelah saya expired, saya dengar Agus melakukan ekspansi besar-besaran. Ambil kredit bank. Menambah peralatan yang lebih baru dan besar.
"Saya dapat pesanan besar langsung dari bapak Presiden Jokowi," katanya di media. Kalau tidak salah ingat: 200 mesin panen dan mesin tanam padi.
Berapa tahun kemudian saya baca berita: Agus marah-marah di media. Pesanan presiden itu tidak jadi. Agus telanjur ekspansi. Kreditnya macet. Perusahaannya pun bangkrut. Saya tidak sampai hati untuk menengoknya.
Beberapa tahun kemudian, ketika marahnya sudah reda, saya kirim WA kepadanya: harus bangkit lagi. "Bedanya pengusaha dan orang biasa adalah ini: pengusaha itu ketika jatuh selalu berusaha bangkit".
Saya cemburu XCMG di Xuzhou. Fisik saya di sana, hati saya di Mlilir. (Dahlan Iskan)