Pantat Kuda

Catatan Dahlan Iskan--

 

Penjilat disamarkan namanya menjadi si penepuk pantat kuda.

 

Tentu tidak semua raja suka dijilat. Ada yang aslinya memang tidak suka dijilat. Ada yang awalnya suka tapi kemudian tidak suka. Yakni setelah tahu para penjilat itu ternyata para pembohong. Tapi raja di sana seumur hidup. Agak telat tahu tentang watak asli para penepuk pantat kuda tidak masalah. Di negara demokrasi telat tahu bisa bermasalah: kehilangan banyak waktu. Padahal masa jabatan terbatas.

 

Saya tidak mengira kota sekecil Huai An penuh dengan bahan tulisan. Ada nama besar perdana menteri Zhou En Lai. Ada penulis-penulis buku legendaris. Ada proyek pertama pembangkit listrik dengan tenaga garam --baru selesai dikerjakan dua bulan lalu. Saya merasa beruntung bisa secepat itu melihatnya.

 

Saya pun ingat. Konglomerat Mochtar Riyadi pernah berkata pada saya: perdagangan pertama di dunia terjadi di Tiongkok. Yakni barter antara besi dan garam. Garamnya garam tambang. Besinya besi tambang. 

 

Kapan-kapan kalau bertemu Mochtar Riyadi lagi saya akan bertanya: apakah sejarah itu terjadi di Huai An. Di sini banyak ditemukan tambang garam. Di kedalaman 1.500 meter. Garam tidak perlu dibuat dari air laut.

 

Kembali ke pantat kuda.

 

Bagi raja yang tidak suka dijilat sebenarnya sudah mengingatkan lewat patung pantat kuda itu: awas! kalau Anda berlebihan menjilat, kuda itu akan menyelentak Anda dengan kaki belakangnya. Anda bisa terjengkang.

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan