Zhou BK
Catatan Dahlan Iskan--
Pertanda lain Zhou dari keluarga kaya adalah ini: di rumah itu ada ruang khusus belajar. Isinya tiga bangku dan satu meja guru. Seorang guru didatangkan ke rumah itu setiap hari: mengajar Zhou dan dua sepupunya.
Zhou tinggal di rumah itu sampai usia12 tahun. Lalu merantau ke provinsi Liaoning yang lebih maju. Ikut pamannya. Sekolah di sana. Lalu kuliah di kota Tianjin --di Nankai University. Kelak di tahun 2007 saya sering lewat universitas itu --menjalani operasi ganti hati di rumah sakit di dekatnya.
Saya sudah banyak membaca literatur tentang Zhou En Lai tapi baru tahu pekan lalu di sinilah lokasi kelahirannya. Saya serasa mendapat bonus perjalanan. Dari rencana hanya melihat satu proyek menjadi berkunjung ke rumah tokoh besar Tiongkok. Ia salah satu pendiri republik. Ia menjabat perdana menteri begitu lama: 15 tahun. Bahkan boleh dikata Zhou adalah tokoh di balikcomeback-nya tokoh sentral reformasi Deng Xiaoping.
Waktu itu Deng menjalani masa pembuangannya di salah satu desa di luar kota Nanchang. Ia jadi tahanan rumah. Resminya: ia ditugaskan memimpin bengkel permesinan di desa itu. Tapi tidak diberi alat. Tidak diberi staf. Ia hanya bersama istri di desa itu.
Secara tidak resmi, Deng menjalani hukuman selama revolusi kebudayaan. Padahalia wakil perdana menteri. Ia dijauhkan dari pusat kekuasaan. Jabatan tingginya sebagai wakil perdana menteri terlalu berbahaya di dekat Mao Zedong.
Zhou-lah yang pelan-pelan meyakinkan Mao agar Deng dipanggil lagi ke Beijing. Zhou-lah yang tahu betapa pintar Deng mengatur perekonomian. Tentu Zhou berani meminta Deng ke Beijing setelah posisinya sendiri aman daribuzzer.
Apalagi rakyat kian merasakan kesengsaraan akibat revolusi kebudayaan. Zhou juga berani mengusulkan agar Deng kembali ke Beijing setelah tokoh muda terdekat dengan Mao Zedong tewas dalam kecelakaan pesawat: Letkol Lin Piao.Ups, bukan Letkol. Lin Piao sudah jendral bintang satu.
Saatitupesawat militer yang membawanya ke arah Rusia jatuh. Pasangan Perdana Menteri Zhou En Lai dan Wakil Perdana Menteri Deng Xiaoping pun kembali merencanakan perbaikan ekonomi. Tapi tidak bisa cepat. Kelompok penjilat Mao masih sangat kuat. Bisa-bisa keduanya dianggap perongrongketua Mao. Zhou sendiri kian tidak sehat. Ia terkena kanker empedu. Sebenarnya sakitnya itu masih bisa diatasi. Bisa dioperasi. Tapi setiap dokter yang akan mengoperasi pejabat tinggi harus minta izin Mao Zedong.
Administrasinya harus melewati lingkaran terdekat sang ketua. Izin itu tidak diberikan. Mungkin Mao sendiri yang tidak mengizinkan. Mungkin juga permintaan izin tidak sampai dibaca Mao.
Setelah akhirnya kencing Zhou campur darah izin operasi diberikan. Terlambat. Zhou En Lai meninggal dunia.
Harusnya negara berduka: pendiri republik meninggal dunia. Tapi tidak. Justru Mao mengeluarkan larangan acara apa pun yang menunjukkan simpatikepada Zhou. Lama-lama rakyat tahu Zhou En Lai sudah meninggal dunia.
Beberapa bulan kemudian, ketika datang haricingbing, puluhan ribu rakyat berkumpul di Tian An Men. Mereka menyatakan duka pada Zou En Lai. Orang Tionghoa di mana pun melakukan ziarah kubur di haricingbing. Mereka ziarah kubur Zhou di lapangan Tian An Men. Tidak hanya rumah Zhou yang jadi museum. Di kota Huai An juga dibangun patung raksasa Zhou. Di belakang patung itu dibangun museum besar Zhou En Lai.
Perjalanan Zhou dipaparkan di meseum itu. Termasuk saat hadir di KAA Bandung. Saat saya tiba di bagian KAA Bandung saya melihat beberapa foto Zhou di KAA itu. Terlihat pula tokoh-tokoh dunia. Tapi tidak terlihat sama sekali Bung Karno.
Maka saya usul di dalam hati. Bagaimana kalau Bu Mega menugaskan staf mencari foto Zhou bersama Bung Karno, lalu mengirimkannya ke museum di Huai An itu. Tanpa Bung Karno tentu meseum itu seperti ada yang kurang. Apalagi ada kemiripan nasib di akhir hayat Zhou dan BK. Baik sakitnya maupun dukanya.(Dahlan Iskan)