Hanya 5 Persen, Minat KB IUD di Lebong Tengah Masih Rendah

Penyuluh KB Kecamatan Lebong Tengah, Yusepa.-carles/radarlebong-

RADARLEBONG.BACAKORAN.CO - Tingkat penggunaan alat kontrasepsi jenis IUD (Intrauterine Device) atau KB spiral di Kecamatan Lebong Tengah, Kabupaten Lebong, masih tergolong rendah.

Dari ribuan Pasangan Usia Subur (PUS) yang tercatat, hanya sekitar 5 persen yang memilih metode kontrasepsi jangka panjang tersebut. Data ini disampaikan Penyuluh KB Kecamatan Lebong Tengah, Yusepa, dalam keterangan resminya.

Menurut Yusepa, mayoritas masyarakat di Lebong Tengah lebih memilih metode KB suntik dengan persentase mencapai 75 persen.

Sementara itu, pengguna KB Implan tercatat sekitar 15 persen dan Pil KB sebanyak 10 persen. Dominasi KB suntik dinilai karena faktor kepraktisan dan kemudahan akses layanan kesehatan.

Baca Juga: Sekitar 300 KPM Lebong Tengah Terima BPNT, Dorong Ketahanan Pangan

"Pengguna KB IUD masih minim, hanya 5 persen. Warga lebih banyak memilih KB suntik karena dinilai lebih praktis, baik yang satu bulan maupun tiga bulan sekali. Untuk Pil KB, peminatnya kurang karena harus diminum setiap hari," jelas Yusepa.

Ia menambahkan, rendahnya minat terhadap IUD dan Implan kemungkinan disebabkan kurangnya pemahaman masyarakat terkait keunggulan metode kontrasepsi jangka panjang.

Padahal, IUD maupun Implan cukup dipasang satu kali dan dapat bertahan hingga tiga tahun tanpa perlu kontrol rutin setiap bulan, sehingga dinilai lebih efisien dari sisi waktu dan biaya jangka panjang.

Meski demikian, Yusepa mengapresiasi kesadaran masyarakat dalam mengikuti program Keluarga Berencana (KB).

Menurutnya, saat ini penggunaan kontrasepsi telah menjadi kebutuhan bagi warga tanpa perlu dorongan atau paksaan dari petugas. Kesadaran tersebut dinilai sebagai capaian positif dalam mendukung program pembangunan kesehatan daerah.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa program KB memiliki peran strategis dalam upaya pencegahan stunting.

Dengan pengaturan jarak kelahiran yang ideal, orang tua dapat lebih optimal dalam memenuhi kebutuhan gizi dan pola asuh anak. 

"KB adalah indikator penting untuk menurunkan angka stunting. Jika jarak kelahiran terlalu dekat, dikhawatirkan asupan gizi dan pola asuh anak tidak maksimal," pungkasnya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan