Mati Kekenyangan
Masjid Nabi Daniel di Mesir. Makam Nabi Lukman bersebelahan dengan Masjid Daniel.-hariandisway-
Raja Farouq memang tidak pernah mikir apa-apa kecuali wanita, wanita dan minuman gila. Hobi lainnya: makan enak dan sangat enak. Makannya harus selalu masakan Prancis dari chef terbaik yang didatangkan ke Alexandria.
Pun ketika sudah mengungsi ke Napoli. Lalu ke Roma. Ia tetap mengoleksi wanita –termasuk Miss Italia saat itu. Akhirnya Raja Farouq meninggal dunia. Penyebabnya, kata rakyat Mesir yang kelaparan: makan kekenyangan. Versi politiknya: mati diracun.
Waktu mengusir raja itu Gamal Abdul Nasser masih letnan kolonel. Lantas jadi presiden pertama Mesir. Jasa terbesarnya adalah: membebaskan Kairo dari banjir abadi. Setiap Sungai Nil meluap wilayah kanan kiri sungai itu terendam air.
Nasser membangun Bendungan Aswan –nun di hulu Sungai Nil. Dananya tidak cukup. Nasser ambil keputusan besar: mengambil alih Terusan Suez.
Sebenarnya investor swasta Prancis itu masih punya hak konsesi 12 tahun lagi. Nasser perlu dana. Konsesi 99 tahun itu pun diakhiri 12 tahun lebih cepat.
Tapi itu bukan nasionalisasi secara paksa. Dapat ganti rugi. Toh sudah mengelolanya selama hampir 80 tahun. Sudah balik modal sejak lama.
Kini terusan Suez menjadi penghasil devisa terbesar kedua bagi Mesir: sekitar USD12 miliar setahun. Yang pertama: dari remiten tenaga profesional Mesir yang bekerja di luar negeri. Utamanya di Arab Saudi, Emirat Arab, Qatar, Bahrain dan Kuwait. Mereka menjadi profesional perminyakan.
Baru posisi ketiga didapat dari hasil pariwisata: jualan Firaun.
Wilayah yang dulunya bencana abadi pun lantas menjadi tanah pertanian yang subur: delta Sungai Nil. Lebarnya 200 km, panjangnya 400 km. Mesir ekspor buah kurma, jeruk, dan sayur.
Rasanya Bung Karno kalah oleh sahabat baiknya dari Mesir itu. Coba Anda ingat: apa monumen kemajuan ekonomi peninggalan Bung Karno. Di akhir pemerintahan Bung Karno inflasi 600 persen.
Nasser meninggalkan Aswan, Suez dan wilayah besar pertanian. Tiga-tiganya jadi penghasil devisa negara sepanjang masa.
Pun Firaun, mewariskan devisa sepanjang masa. Sejarah kian menarik dibaca di kurun yang kian jauh. (Dahlan Iskan)