Tiga Huruf
--
Ketika ayahnya mengantar ke bandara, akhirnya Fauzi tahu semuanya. Termasuk tahu dari mana ayahnya dapat uang. Dan itu membuat tekad Fauzi membara: harus hafal Quran –di samping harus jadi sarjana.
Sebelum berpisah di beranda bandara sang ayah berkata lirih kepadanya: SK guru miliknya digadaikan untuk mendapat uang biaya keberangkatannya ke Al Azhar.
Ketika sudah hafal Quran 15 juz teman Fauzi minta tolong kepadanya: agar menggantikan sementara pekerjaan si teman. Yakni sebagai pelayan di restoran. Si teman akan konsentrasi mempersiapkan ujian akhir.
Begitu si teman mau masuk kerja lagi, juragan restoran tidak mau. Sang juragan minta agar Fauzi saja yang tetap di situ. Sang juragan sangat puas dengan kerja Fauzi.
Lama-lama Fauzi tidak hanya jadi pelayan. Ia diminta juga antar-antar barang. Dipercaya mengemudikan mobil. Diuruskan SIM Mesir. Dibiayai. Fauzi pun lebih menghafal lika-liku jalan di kota Kairo.
Dianggap tahu jalan, Fauzi diminta antar turis ke Piramid. Lalu keterusan. Sering diminta antar turis. Lama-lama Fauzi punya bisnis wisata sendiri. Sampai sekarang. Sampai punya dua mobil. Ia sosok favorit untuk mengantar rombongan dari Indonesia.
Bisnisnya terus berkembang. Termasuk mendatangkan bumbu-bumbu dari Indonesia. Juga mengirim barang-barang dari Mesir. Tiap bulan ia kirim tiga ton kurma Mesir ke Jakarta.
Penerbangan Mesir-Jakarta, baginya, sudah seperti dari Tanah Abang ke Tasikmalaya. Setahun bisa lebih 17 kali. Dagang Mesir-Jakarta.
Saat pertama bertemu di bandara Kairo saya minta maaf kepadanya: pesawat dari Yaman telat delapan jam. Baru mendarat di terminal 1 Kairo tengah malam.
Saya tidak mengeluh. Yamania memang hanya punya tiga pesawat. Bisa terbang keluar dari Yaman saja sudah Alhamdulillah. Apalagi pesawat itu telat karena harus singgah di Aden. Akhirnya saya bisa ke Aden –meski penumpang transit tidak boleh meninggalkan pesawat.
Fauzi punya kiat sukses khusus untuk menempuh kehidupan di Mesir. Sebaiknya itu juga jadi pegangan semua orang di Mesir. Di mana saja.
Kiat itu tecermin dari nama ''Mesir'' yang dalam bahasa Arab hanya terdiri dari tiga huruf: mim (M), shot (S), dan ra' (R).
M itu musibah. S itu sabar. R itu ridho.
Setiap kena Musibah ia harus Sabar, agar Ridho Allah turun kepadanya. Musibah, sabar, ridho.
Fauzi sendiri masih punya pegangan satu lagi. "Di Mesir ini saya juga berpedoman pada 'Tiga S'," katanya. Yakni Sabar, Sabaaar, dan Sabaaaaar. (Dahlan Iskan)