Amang Waron

Catatan Dahlan Iskan--

"Untungnya RS ini di selatan jalan. Bisa saya beri nama RS Waron," ujar Amang. "Kalau di utara jalan bisa-bisa namanya RS Kepiting," guraunya.

Saya sebut hebat karena satu  mimpi Amang ini mengandung tiga mimpi sekaligus: merekrut dokter paling hebat, diberi alat paling hebat, dan harus punya sistem tim yang hebat.

Yang terakhir itu yang masih agak langka di Indonesia: sistem tim. Secara perorangan dokter Indonesia tidak kalah hebat dari yang di luar negeri. Pun peralatan: bisa beli --kalau mau dan mampu.

Tapi di bidang tim kerja, ada kendala yang berat. Khas Indonesia. Lebih tepatnya: khas para pemilik profesi. Yakni: ego personal.

Dokter itu gampang merasa paling hebat. Akarnya sudah sering saya tulis: kata ”profesi”. Profesi berbeda dengan pekerjaan. Salah satu ciri  profesi adalah: otonomi. Orang yang di profesi punya otonomi untuk melakukan sesuatu atau tidak mau melakukan sesuatu.

Dokter sudah biasa otonom. Mendarah mendaging. Atasan pun bisa tidak dituruti. Bahkan bisa dilawan --kalau dirasa tidak sesuai dengan keilmuannya. Apalagi pasien: tidak mungkin boleh punya pendapat di bidang sakitnya.

Di Waron, hanya dokter yang seide dengan Amang yang dijadikan partner. Yakni dokter yang sudah nenyadari bahwa ego tidak boleh dimanjakan.

Amang sudah menemukan empat dokter jagoan yang ia inginkan. Rencanya kelak bisa 11 orang. Empat jagoan itu tidak diperlakukan sebagai karyawan. Atau anak buah. Empat-empatnya diminta sebagai partner usaha.

Caranya, empat dokter itu masing-masing mendirikan perusahaan. Dokter Amang ikut punya saham di empat perusahaan tersebut.

Masing-masing perusahaan boleh membawa merek mereka sendiri-sendiri ke RS Waron. Boleh pula mengembangkan merek semaksimal mungkin --tidak harus merek Waron yang dikibarkan.

Misalnya di lantai 7: ada The Cell. Ditulis dengan huruf besar.  Perusahaan The Cell milik bersama Prof Dr Brahmana dan Amang --atau PT-nya Amang.

The Cell bergerak di bidang ongkologi --Brahmana adalah ahli kandungan yang juga ahli kanker. The Cell sudah seperti rumah sakit kanker dengan ukuran satu lantai.

Lalu di lantai lain ada merek Falma. Pemilik perusahaan Falma adalah dr Fransiscus Hari Prasetyadi SpOG Subsp FM. Bergerak di bidang kehamilan. Pemegang saham Falma adalah dr Fransiscus bersama Amang. Falma sudah seperti rumah sakit khusus obgin dengan ukuran satu lantai.

Ada lagi merek Asha --kabarnya singkatan dari Amang Surya dan Haji Ali. Di perusahaan Asha, pemegang sahamnya Haji Ali dan Amang. Perusahaan Asha bergerak di bidang bayi tabung.

Perusahaan-perusahaan itu menyewa tempat di RS Waron. Fasilitas mereka ditangani oleh perusahaan rumah sakit.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan