BUMDes Pungguk Pedaro Baru Berjalan, Ketua Sudah Berganti di Tengah Pengelolaan Dana Rp 188 Juta

Cek: Tim Monev kecamatan Bingin Kuning mengecek usaha ayam petelur di Desa Pungguk Pedaro.-(carles/rl)-

RADARLEBONG.BACAKORAN.CO - Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pungguk Pedaro, Kecamatan Bingin Kuning, Kabupaten Lebong, menjadi sorotan setelah diketahui terjadi pergantian ketua, meski BUMDes tersebut baru berjalan dalam waktu singkat.

Pergantian ini terjadi di tengah pengelolaan dana BUMDes yang mencapai Rp188 juta dan telah dialokasikan untuk sejumlah program usaha desa.

Ketua BUMDes Pungguk Pedaro yang baru, Yogi, menyampaikan bahwa dirinya mulai menjabat pada akhir Desember 2025.

Ia menegaskan bahwa saat ini masih dalam tahap penyesuaian dan belum mengetahui secara menyeluruh penggunaan anggaran BUMDes.

Baca Juga: Camat Ingatkan Warga Jaga Taman Desa Karang Dapo Atas

Menurut Yogi, dana yang ia ketahui secara pasti hanya berasal dari program pengelolaan ayam petelur dengan nilai sekitar Rp100 juta, sementara anggaran untuk pengelolaan jagung belum ia ketahui secara rinci.

"Saya baru menjabat sebagai ketua BUMDes akhir Desember 2025, jadi belum mengetahui keseluruhan dana BUMDes. Yang saya tahu hanya pengolahan ayam petelur, sementara untuk anggaran jagung saya belum tahu," ujar Yogi.

Lebih lanjut, Yogi menjelaskan bahwa ketua BUMDes sebelumnya adalah Robinson. Karena pergantian kepengurusan tersebut, ia belum menerima laporan lengkap terkait seluruh kegiatan dan penggunaan anggaran BUMDes. 

"Sampai sekarang, usaha ayam petelur memang belum memberikan pemasukan karena masih dalam tahap awal operasional," sampainya. 

Sementara itu, Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Desa Pungguk Pedaro, Yulia Wijayanti, S.Sos, menjelaskan bahwa total dana BUMDes sebesar Rp 188 juta digunakan untuk dua jenis usaha utama, yakni pengelolaan ayam petelur dan penanaman jagung.

Dari dana tersebut, hampir seluruhnya telah tersalurkan untuk mendukung kedua kegiatan tersebut.

Menurut Yulia, usaha ayam petelur saat ini memiliki sebanyak 400 ekor ayam yang ditempatkan di lahan milik warga dengan sistem sewa. Biaya sewa lahan tersebut sebesar Rp 2,5 juta per tahun.

"Usaha ayam petelur baru berjalan sekitar dua bulan sehingga belum menghasilkan pendapatan bagi BUMDes," jelasnya.

Selain itu, dana BUMDes juga dialokasikan untuk pengelolaan lahan jagung seluas kurang lebih 0,6 hektare. Namun hingga kini, tanaman jagung tersebut belum memasuki masa panen, sehingga hasilnya belum dapat dirasakan oleh desa.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan