BMKG Peringatkan Hujan Sangat Lebat, Lebong Masuk Daftar Rawan Bencana
BMKG Peringatkan Hujan Sangat Lebat, Lebong Masuk Daftar Rawan Bencana-foto :adrian roseple/radarlebong-
LEBONG.RADARLEBONG.BACAKORAN.CO - Kabupaten Lebong kembali masuk dalam daftar wilayah rawan bencana menyusul peringatan dini yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bengkulu Kelas III Fatmawati Bengkulu.
BMKG memperingatkan bahwa mulai 11 hingga 18 Desember, wilayah Bengkulu termasuk Lebong diperkirakan mengalami hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat.
Kondisi ini berkaitan dengan ditemukannya bibit siklon tropis 91S yang terpantau berada di Samudra Hindia sebelah barat Bengkulu.
Dalam press release yang dirilis BMKG Bengkulu, disebutkan bahwa keberadaan bibit siklon tersebut dapat meningkatkan aktivitas pembentukan awan-awan konvektif. Awan ini dapat memicu hujan deras, angin kencang, serta potensi gelombang tinggi di sejumlah titik.
BMKG menilai kondisi atmosfer yang tidak stabil ini dapat berdampak serius bagi masyarakat di daerah rawan bencana, terutama karena durasi hujan diprediksi terjadi selama sepekan penuh.
Kepala BPBD Lebong, Saprul, SE, melalui Analis Kebencanaan, Masayu Uminil Hana, SH, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama warga yang tinggal di kawasan dengan risiko bencana tinggi.
Masayu menegaskan bahwa periode cuaca ekstrem seperti ini kerap memicu berbagai bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor, banjir, serta pergeseran tanah.
"Kami juga meminta masyarakat segera melapor jika menemukan tanda-tanda awal bencana seperti retakan tanah, aliran sungai mulai meluap, atau pohon-pohon yang tampak miring," sampai Masayu.
Berdasarkan data BPBD Lebong, kabupaten ini memiliki 32.604 hektare area dengan tingkat kerawanan longsor kelas tinggi. Wilayah tersebut tersebar hampir di seluruh kecamatan, namun yang paling luas berada di Kecamatan Pinang Belapis dan Kecamatan Topos. Kontur tanah yang berbukit, ditambah curah hujan ekstrem, membuat wilayah ini sangat sensitif terhadap pergerakan tanah. Selain itu, lereng-lereng yang terjal di beberapa desa di dua kecamatan tersebut semakin meningkatkan potensi terjadinya longsor besar.
Tidak hanya tanah longsor, Masayu juga menekankan bahwa ancaman banjir harus menjadi perhatian serius. Dari pemetaan BPBD, wilayah rawan banjir kelas tinggi terluas saat ini berada di Kecamatan Pinang Belapis, dengan luasan mencapai 1.076 hektare.
"Daerah ini memiliki aliran sungai yang rentan meluap saat hujan berlangsung terus-menerus dalam durasi panjang, terutama apabila terjadi penyempitan aliran air atau penyumbatan akibat material dari hulu sungai," jelasnya.
Masayu mengingatkan bahwa bencana sering kali terjadi secara bersamaan banjir di dataran rendah, longsor di daerah perbukitan sehingga masyarakat diharapkan tidak menyepelekan cuaca ekstrem, meskipun hujan terlihat biasa pada awalnya.
"Kondisi sekarang sangat dinamis. Jika hujan turun tanpa jeda selama beberapa hari, tanah bisa jenuh air dan longsor besar sangat mungkin terjadi," ujarnya.
BPBD juga sedang melakukan koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa untuk memastikan kesiapan jalur evakuasi serta posko sementara apabila situasi memburuk.