Pakar AI Latih Guru Menggunakan Teknologi Dalam Mengajar, Makin Percaya Diri

Dr. Lidia Sandra, M. Psi, Psikolog (nomor 3 dari kiri), salah satu keynote speaker dalam Workshop AI CCLD–Children’s House. -Foto dok. CH-

JAKARTA.RADARLEBONG.BACAKORAN.CO - Lebih dari 300 pendidik mendapatkan pelatihan besertifikat pendidikan berbasis human AI collaboration.

Pelatihan besutan Cendekian Corporate Learning and Development bersama Children’s House–Cendekia Harapan berkolaborasi dengan Kreats Technology menghadirkan paket lengkap: arah kebijakan, kompas nilai, hingga alat kerja siap pakai. 

Lebih dari 110 guru hadir luring, sisanya mengikuti secara online. 

“Pelatihan ini berkaitan dengan bagaimana cara kami memanfaatkan AI dalam pembelajaran untuk bisa lebih memaksimalkan peran kami sebagai guru di sekolah,” ujar Nyoman Yuliana Citra, guru SMA Negeri 2 Kuta Selatan, peserta Workshop AI CCLD–Children’s House dalam testimoninya dikutip Sabtu (30/8).

Senada itu, Kepala Sekolah SD 9 Jimbaran, Ni Nengah Sukerti mengatakan, materi yang diberikan sangat menarik dan berguna untuk menambah wawasan dan keterampilan yang dimilikinya.

Agung Mayun, guru SMA PGRI 2 Denpasar, mengapresiasi CH karena sebagai pionir dalam penerapan teknologi di dalam pembelajaran.

"Saya mendapatkan wawasan baru bahwa ternyata kami tidak bisa bersaing dengan teknologi, tetapi berdampingan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Toni Toharudin mengingatkan dunia sekolah meninggalkan budaya hafalan dan beralih pada orkestrasi kolaborasi manusia serta kecerdasan buatan.

Guru ditopang menjadi arsitek pembelajaran yang menumbuhkan penalaran, literasi data, dan tanggung jawab etis.

"Kurikulum dan asesmen didorong lebih relevan, sedangkan budaya inovasi di sekolah mesti aman dan inklusif. Teknologi harus memperkuat misi kemanusiaan pendidikan," tegasnya.

Dr. Lidia Sandra, S. Psi., S. Kom., M. Psi., M. Eng. Sc., psikolog yang juga wakil rektor I Universitas Bali Dwipa mengingatkan AI bukan pengganti manusia, melainkan mitra kolaborasi. Teknologi seharusnya membebaskan guru dan pelajar dari sekadar mengerjakan tugas menuju ruang berpikir, berkreasi, dan memetik hikmah. 

Dia mendorong “higiene kognitif”, gunakan AI secara sadar dan imbangi dengan latihan kognitif tanpa AI agar nalar tetap tajam.

"Penilaian harus bergeser dari produk ke proses, dengan jejak iterasi, refleksi, serta pembacaan batas AI. Jadi, mulailah dengan satu langkah kecil hari ini," kata Dr. Lidia yang juga CEO CH Group.

Pelatihan makin menarik saat tampil pembicara utama, Ir. Timothy Dillan, B. Sc. (Hons), M. Kom, talenta 19 tahun yang tengah menempuh doktor Ilmu Komputer dengan spesialisasi kecerdasan buatan. Ia membumikan konsep AI-first ke praktik kelas. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan