Penembakan pertama yang menyerempet telinganya tiga tahun lalu membuat Trump terpilih kembali sebagai presiden. Penembakan kali ini membuat nama Trump kembali populer setelah hancur oleh keadaan ekonomi, kasus perdagangan seksanak-anak dan perangnya dengan Iran.
Menguatnya nama Trump kali ini penting untuk menghadapi Pileg November depan. Kalau saja Republik kehilangan mayoritas di Pileg itu Trump langsung menjadi bebek pincang --bahkan bisa lebih jelek dari itu.
Maka Trump harus berterima kasih pada Cole Allen yang begitu ceroboh. Usaha penembakannya sangat sembrono: membawa senjata dan pistol masuk hotel. Juga pisau. Allen mudah diamankan petugas saat masih jauh dari sasaran.
Allen memang berstatus tamu di hotel itu. Ia datang jauh dari pantai barat ke pantai timur Amerika. Dari rumahnya di Los Angeles ia terbang ke Chicago. Lalu naik kereta ke Washington DC.
Rumahnya memang tidak jauh dari Los Angeles. Di pinggiran barat daya LA. Yakni di wilayah Torrance. Itu kota industri. Kota pantai. Anda sudah tahu: pantai Ret Beach amat terkenal di Torrance. Di sepanjang pantai antara Los Angeles sampai San Fransisco memang banyak sekali pantai terkenal.
Kota pinggiran Torrance juga terkenal sebagai kantor pusatnya Honda Amerika. Juga pusatnya Honeywell, perusahaan otomation terkenal. Helicopter Robinson juga diproduksi di Torrance.
Yang agak aneh: Allen, 31 tahun, adalah alumnus universitas riset teknologi terkemuka di dunia: Caltech --California Technology. Yakni universitas yang hanya punya mahasiswa S-2 dan S-3. Anda masih ingat: saya pernah menyinggung soal Caltech ketika saya mampir ke sana dua tahun lalu. Kampusnya di dekat Pasadena.
Allen mengaku punya bisnis mandiri: game developer. Tembak-menembak sudah menjadi budaya dalam permainan game --termasuk game yang ia ciptakan.
Selebihnya Allen punya pekerjaan tetap: menjadi guru bimbel di kotanya.
Di Amerika ada puluhan ribu jasa bimbingan belajar. Salah satunya: C2, tempat Allen mengajar.
C2 banyak punya cabang di kota-kota yang penduduk keturunan Asianya besar. Orang Asia paling semangat memasukkan anak ke bimbel. Apa saja. Mulai bahasa Inggris sampai matematika.
Bimbel C2 tergolong bertarif mahal karena sifatnya pribadi. Bukan kelas --seperti bimbel di Indonesia. Tarifnya antara 2.000 sampai 6.000 dolar --tergantung banyaknya mata pelajaran dan berapa kali tutor dalam seminggu. Bahkan untuk bimbingan khusus masuk perguruan tinggi ternama sampi 10.000 dolar.
Dari penelusuran penegak hukum di sana diketahui Allen sangat benci Trump. Benci pertama ketika Trump menghentikan dukungan untuk Ukraina. Benci yang belakangan ketika Trump seperti merendahkan Sri Paus.
Allen yang mengaku sebagai Kristen Protestan menganggap Trump sebagai orang Kristen yang menafik. Ia juga menilai Trump sebagai preman. Putusannya untuk gencatan senjata dengan Iran ia anggap sebagai penyerahan diri.
Tentu Trump sudah kebal dengan penilaian seperti itu --pun lebih dari itu. Apalagi kali ini justru bisa membuat namanya kembali dapat simpati di dalam negeri.(Dahlan Iskan)