Begitu ke Tarim tidak bisa ke mana-mana lagi. Baru ada pesawat keluar dari Yaman tujuh hari lagi.
Saya pun bingung: akan ngapain saja enam hari di Tarim.
Menghafal Quran? Sudah terlalu tua untuk mengingat hafalan begitu banyak.
Ziarah ke makam-makam para wali? Satu hari juga bisa selesai.
Memperdalam silsilah Habib? Saya justru takut terjebak ke perdebatan yang tiada ujungnya. Sudah tiga tahun debat publik soal silsilah Habib itu begitu menguras perhatian sampai lupa harga saham jatuh ke jurang.
Maka di hari ketiga di Tarim saya mulai melihat peta. Ada kota agak besar bernama Mukalla. Tapi jauh. Lima jam naik mobil. Saya pun ke sana. Dari pada terseret ke soal kontroversi Habib.
Tidak bisa dihindarkan. Di hari ketiga itu saya mulai tanya-tanya soal Habib. Maklum tidak ada apa-apa lagi yang bisa dilihat. Wah ini bahaya. Mulai terpancing ke soal Habib. Maka saya lupakan Habib. Saya berangkat ke Mukalla.
Tidak bisa mendadak. Amang harus mengurus surat jalan saya dulu. Juga harus menemani saya ke Mukalla. "Anda bisa hilang di jalan," katanya ketika saya bertekad untuk pergi sendirian.(Dahlan Iskan)