Mati Efisien

Rabu 25 Mar 2026 - 23:54 WIB

Di jajaran pimpinan PT Agrinas Pangan sendiri ada lima jenderal aktif ditugaskan di situ. Direktur operasionalnya bintang dua: Mayjen TNI Yudha Rusniwan Yusni. Muda. Tegap. Saat menatap wajahnya saya ingat Jenderal TNI Purn Sjafrie Sjamsoeddin waktu semuda Yudha: sama gantengnya.

Para operator komputer yang di war room tadi, semuanya juga tentara. Pangkat tertinggi mereka sersan mayor. Mereka bekerja sejak pukul 08.00 sampai 21.00. Baru di bulan puasa kemarin boleh sampai menjelang berbuka puasa.

Pimpinan mereka tiga orang kolonel. Salah satunya Kolonel TNI Triyandono. Ia biasa dipanggil Chai97 –menandakan angkatan 97 di Akademi Militernya. Sedang Chai adalah kepanjangan Moderchai –nama baptisnya.

Kami pun berbincang di ruang rapat direksi. Aditya membuka laptop. Sambil menunggu laptop menyala, saya menatap papan tulis besar di depan. Ada tulisan menarik di papan itu: surat pendek seorang anak perempuan kepada ibunya. Anda sudah tahu surat siapa itu. Yakni surat seorang anak SD yang bunuh diri di NTT. Dalam bahasa daerah NTT. Lalu ada terjemahan bahasa Indonesia di sebelahnya.

"Pak Joao minta agar kami selalu membaca surat itu. Beliau minta surat itu ditaruh di papan ruang rapat," ujar Aditya. 

Aditya bukan tentara. Sebelum di Agrinas, Aditya bekerja di perusahaan minyak Amerika Serikat: ExxonMobil. Tugasnya di Cepu. Ia terpanggil untuk ikut membawa misi koperasi Merah Putih. 

Aditya sendiri lulusan SMA Nusantara, Magelang. Lalu ke teknik sipil UGM. Masternya didapat di New Castle Inggris.

Ternyata ada juga sipilnya.

Keterlibatan militer itu, katanya, tidak selamanya. Hanya sampai seluruh bangunan fisik selesai dibangun. 

Setelah itu ganti dipegang manajemen Agrinas Pangan Nusantara sepenuhnya.

Tim Joao-lah yang menjalankan Koperasi Merah Putih itu. Semuanya. Se-Indonesia. Targetnya: selama dua tahun. Setelah itu diserahkan ke pengurus koperasi di desa-desa dan kelurahan.

Joao saya beri gelar petir karena langkahnya yang serba mengejutkan. Mulai dari saat ia memutuskan mundur dari jabatan dirut Agrinas sampai saat ia melakukan pembelian 105.000 mobil dari India. Bahkan saat ia mengatakan uang mukanya sudah dibayar. Ia pernah minta mundur karena merasa keputusan untuk Agrinas Pangan sangat lambat. Setelah ia tidak jadi mundur langkahnya secepat petir.

Saya pun bertanya: apakah tidak khawatir mobil yang dibeli sudah tiba padahal koperasinya belum jalan. 

Ternyata mobil-mobil itu –dua mobil dan dua sepeda motor roda tiga untuk tiap satu koperasi– akan disimpan dulu di Makodim. Aman. Kodim bertugas menjaganya.

Melihat ketatnya evaluasi program ini saya menarik kesimpulan: nama TNI dipertaruhkan di program ini. Saya bayangkan: kalau saja Merah Putih jalan lebih dulu, lalu disusul MBG, alangkah hebatnya. Sekaligus koperasi Merah Putih bisa jadi penanggung jawab MBG. Termasuk pengadaan materi MBG-nya.

Yang juga saya diskusikan adalah bagaimana prinsip efisiensi bisa ditegakkan. Apakah Merah Putih nanti bisa seefisien Alfamart atau Indomaret. Di situlah kunci sukses keduanya. 

Kategori :

Terkait

Sabtu 11 Apr 2026 - 01:28 WIB

WFH Sarengat

Kamis 09 Apr 2026 - 23:45 WIB

Kejiwaan Iran

Kamis 09 Apr 2026 - 00:24 WIB

Utang Tuhan

Rabu 08 Apr 2026 - 00:06 WIB

Zaman Batu

Kamis 02 Apr 2026 - 00:21 WIB

Iri Masyaallah