Berarti Joao dilarang mundur.
Ternyata, kini, begitu bisa bekerja Joao bekerja luar biasa. Luar biasa besarnya. Juga luar biasa cepatnya.
Besar: impor mobil sebanyak 105.000.
Cepat: sudah membayar uang muka 30 persen.
Bahkan ternyata lebih cepat dari itu: mobil pikap India tersebut sudah akan tiba. Minggu depan.
Maka saya tidak bisa melanjutkan tulisan ini: petir beberapa kali itu membuat kepala saya sulit menyusun kalimat yang tidak menyakitkan siapa pun. Terlalu banyak pertanyaan di kepala. Semua tidak tersedia jawabnya.
Bagaimana proses terjadinya keputusan itu? Pakai tender atau e-katalog seperti chromebook?
Dari mana dapat uang muka 30 persen untuk mobil berjumlah 105.000?
Kalau dari APBN mengapa Menkeu Purbaya tidak mencak-mencak?
Maka, mestinya, bukan dari APBN.
Berarti dari Danantara? Pun pelunasannya nanti juga dari Danantara?
Sebegitu mudahkah Danantara mengeluarkan uang?
Jangan-jangan bukan dari Danantara --juga bukan dari APBN. Jangan-jangan ada orang baik hati yang menyumbang uang Rp 9 triliun untuk PT Agrinas --asal Joao jangan ngambek sampai minta berhenti begitu.
Lalu: mobil sebanyak itu akan dibagi ke siapa? Memang disebut-sebut akan dibagi ke Koperasi Desa Merah Putih. Apakah koperasinya sudah siap? Akan mengangkut apa?
Padahal mobilnya sudah akan tiba. Tidak mungkin disimpan begitu saja di gudang. Itu sangat bertentangan dengan disiplin keuangan: terkait ROI. Berarti segera pula dibagi ke koperasi. Sebelum lebaran ini.
Terlalu pusing saya memikirkan: akan dipakai mengangkut apa mobil itu. Agar hasil angkutnya bisa untuk biaya oprasional dan mengembalikan modal.