Senja itu saya diajak ke gunung. Ada real estate baru di sana. Baru. Baru ini ada real estatedi Tarim. Sejarah: inilah proyek perumahan pertama di Tarim dalam bentuk real estate.
Selama ini pembangunan rumah di sana seperti tidak ada tata aturannya. Rumah di kampung-kampung dihubungkan oleh gang-gang berdebu yang berliku.
Tapi kini mulai ada real estate. Berarti mulai maju. Proyek itu sedang dibangun. Belum sepenuhnya selesai. Tapi sudah terlihat modernnya.
Yang lebih menarik: real estate itu berlokasi di atas gunung. Berarti juga yang pertama di atas gunung. Gunung mulai diincar sebagai kekuatan dan daya tarik.
Dari real estate ini saya bisa melihat kota Tarim di bawah sana. Terlihat juga stadion sederhana yang banyak pohon korma di sekitarnya.
Kelak, dari bawah, real estate ini akan terlihat seperti istana mewah yang mencuat di atas gunung gersang.
Saya diajak keliling proyek. Naik-naik ke lantai atas. Melihat pula satu apartemen yang sudah jadi –kelihatannya sebagai show marketing.
Satu apartemen tiga kamar. Besar-besar. Sudah tidak ada bedanya dengan apartemen mahal di Shanghai atau Jakarta. Material dinding, lantai, toilet, dapur, semuanya terlihat mewah. Bahkan langit-langitnya sangat tinggi: hampir empat meter.
Ada tujuh ''tower'' di proyek ini. Tiap tower empat lantai. Dari bawah akan kelihatan seperti kumpulan bangunan tinggi di atas gunung.
Satu lantai hanya untuk dua keluarga –masing-masing tiga kamar tidur. Dari tiap kamarnya bisa melihat pemandangan kota Tarim di bawah sana.
Di antara kamar tidur adalah kamar keluarga dan dapur. Masih ada halaman belakang yang bisa untuk barbeque kambing panggang. Juga untuk lesehan di malam hari. Menghadap langit.
Baru dua tahun stabil saja sudah ada yang berani memulai proyek seperti itu. Juga banyak yang mulai membangun rumah baru. Mungkin akan banyak orang kaya dari negara-negara Islam yang ingin membeli apartemen semodern itu di Tarim. Apalagi harganya tidak semahal di Indonesia. Hanya sekitar USD 70.000.
Punya apartemen di Tarim mungkin bisa jadi emosi baru bagi keluarga kaya yang memimpikan anaknya nyantri di sana.
Tarim yang konservatif, kini sudah dimasuki proyek modern seperti itu. Kalau saja marketingnya sukses berarti akan banyak proyek serupa yang menyusul. Puncak-puncak gunung Tarim pun kelak akan jadi puncak-puncak apartemen yang jadi hiasan baru kota. (Dahlan Iskan)