Saya pun bertanya kepada sahabat Disway di Tarim, yang asli orang Tarim:
"Apakah di sini ada keturunan Nabi yang tidak dipanggil habib?"
"Banyak. Biar pun keturunan Nabi tapi kalau ilmunya tidak tinggi tidak akan dipanggil habib," jawab teman Tarim saya itu.
"Anda sendiri keturunan Nabi?" "Bukan. Saya keturunan sahabat Nabi," jawabnya.
"Dari mana seseorang tahu keturunan Nabi atau bukan?"
"Dari silsilah. Di masyarakat Arab ini silsilah itu diceritakan dari kakek ke ayah, ke anak, ke cucu. Ada catatannya. Ada disiplin ilmu nasab di sini," katanya.
Misalnya ada pedagang besar yang keturunan Nabi di Hadramaut. Namanya sangat terkenal. Tapi tidak dipanggil habib karena dianggap bukan ulama tinggi. Mereka dipanggil sayyid. Pokoknya yang tidak memenuhi tiga unsur tadi tidak dipanggil habib: ilmu yang tinggi, punya silsilah dan punya peran besar dalam membantu masyarakat sekitar.
"Di Tarim tidak ada orang yang minta dipanggil habib. Orang-lah yang memanggil beliau habib. Yakni setelah dilihat memiliki tiga syarat tadi", katanya.
Di Indonesia memang salah kaprah. Pokok wajahnya seperti Arab dipanggil habib. Bahkan saya sendiri memanggil mantan pemain sepak bola berdarah Arab dengan panggilan habib. Dan yang saya panggil habib juga menoleh.