Amang Tabung

Rabu 14 Jan 2026 - 22:05 WIB

Oleh: Dahlan Iskan

Saya jadi pemandu wisata. Kemarin. Tamu saya –dua dari provinsi Jiangshu, dua dari Singapura–ingin melihat rumah sakit butik yang ditulis Disway edisi Selasa kemarin.

Maka saya pandu mereka ke RS Kepiting –ups, RS Waron. Yang di Jalan Kali Waron –di seberang jalan Kali Kepiting. Saya tidak memberi tahu pemiliknya –Prof Dr Amang Surya Priyanto. Toh ini hanya tur dadakan.

Satpam di situ ternyata tahu kedatangan saya. Akibatnya, GM RS itu pun, Mr Nano Wartino, buru-buru menyambut kami di lobi –mirip lobi hotel bintang lima plus. Nano bukan dokter. Ia orang perhotelan. Berpengalaman puluhan tahun di hotel bintang lima. GM RS kelas butik justru merekrut GM dari dunia perhotelan.

Maka saya serahkan tamu-tamu saya ke Nano. Saya kepepet waktu: belum sempat menulis untuk Disway. Saya pun duduk di kursi panjang di lobi. Sambil memesan kopi gula aren di kafenya.

Tiba-tiba Prof Amang, pemilik RS butik ini, menyapa saya: "kok duduk di sini," katanya. Ia pun merayu saya ke ruangan khusus. Sebenarnya saya pilih sendirian. Agar bisa menyelesaikan tulisan. Tapi baik juga bisa ngobrol soal lain dengan Prof Amang: soal bayi tabung. Ia adalah satu dari sedikit pendekar bayi tabung di Indonesia. Tentu sudah banyak ahli bayi tabung, tapi yang level pendekar belum sampai 15 orang.

"Sudah meramu berapa bayi tabung?" tanya saya.

"Banyak sekali," jawabnya.

"Seribu?"

"Lebiiiih".

"Dua ribu?"

"Masih lebih sedikit".

"Dibanding 10 tahun lalu, seberapa lebih maju dunia bayi tabung sekarang?"

"Jauh lebih maju," kata Prof Amang.

Kini, katanya, sudah ada satu bayi yang orang tuanya tiga atau empat orang. Sudah pula ada anak kembar yang selisih umur mereka delapan tahun.

Kategori :

Terkait

Kamis 15 Jan 2026 - 22:13 WIB

Rafael Zainal

Rabu 14 Jan 2026 - 22:05 WIB

Amang Tabung

Selasa 13 Jan 2026 - 21:00 WIB

Amang Waron

Senin 12 Jan 2026 - 22:59 WIB

Reflek Radjimin

Minggu 11 Jan 2026 - 22:12 WIB

Sirrul Cholil