Dengan segala upaya ia bisa kuliah di Surabaya: Unair. Di pondokan ia satu kamar dengan anak senasib dari Jember: kini terkenal dengan nama Prof Dr Dwikora --ahli ortopedi lulusan Unair-Jepang.
Amang sendiri mendapatkan spesialis kandungan dari Universitas Sriwijaya, Palembang. Lalu kembali ke Unair untuk S-3. Keahlian bayi tabungnya didapat dari berbagai pendidikan di banyak negara.
Amang suka bergurau soal mengapa lulusan Unair kuliah spesialis jauh-jauh ke Unsri. "Kalau mendaftar di Unair saya pasti tidak diterima," katanya. "Saya harus tahu diri. Saya baru bisa lulus jadi dokter lewat ujian ulangan," katanya.
"Kalau Amang lulus terbaik tidak akan jadi pengusaha sukses seperti sekarang," komentar dr Gregorius Agung Himawan
lulusan terbaik Unair di angkatannya. Ia sekaligus terbaik se-Indonesia tahun itu.
"Justru kami-kami yang lulus terbaik ini yang sekarang ditolong dokter Amang," guraunya.
Amang jadi pengusaha karena dendam. Bukan karena pernah ujian ulang. Di samping dendam kemiskinan juga dendam profesi. Ia mimpi dokter harus punya rumah sakit yang terbaik.
Untuk menjadi yang terbaik itulah Amang merekrut lulusan-lulusan terbaik. Ia tidak menerima dokter yang ketika lulus lewat ujian ulang.
Sebagai ahli kandungan rumah sakitnya punya keistimewaan di bidang itu. Termasuk di bayi tabung. Amang membelikan alat terbaik untuk para juara itu. Misalnya Prof Dr Brahmana ia belikan robot. Belum banyak rumah sakit di Indonesia yang operasi pakai robot. Baru ada lima. Semua di Jakarta. Di Surabaya Waron-lah yang akan pertama.
Pekan lalu Brahmana dikirim ke Beijing. Bersama empat orang timnya. Mereka ke produsen robot. Merk EDGE. Made in China. Pun untuk robot operasi Tiongkok sudah jadi produsen.
Sebenarnya Brahmana sudah bisa menggunakan robot untuk operasi kandungan. Pernah pakai merek lain. Tapi karena Waron akan membelikannya EDGE ia harus dilatih. "Ibaratnya kami ini sudah jadi pilot pesawat Boeing. Ketika akan menjalankan pesawat lain harus dilatih lagi," gurau Brahmana.
Pulang dari Beijing Brahmana menulis artikel untuk grup ahli kandungan. Ia ceritakan pengalamannya mengoperasikan robot made in China itu. "Sudah tidak kalah dengan bikinan Amerika," katanya. "Padahal harganya hanya sepertiganya", tambahnya.
Kalau Brahmana dibelikan robot, Dr dr Fransiscus Hari Prasetyadi dibelikan USG merek GE edisi terbaru, tipe Voluson Expert 22 BT 25. Sudah ada satu dua RS yang punya tipe serupa tapi bukan edisi terakhir.
Salah satu pertanda butiknya rumah sakit Waron adalah kamarnya: ada kamar di atas VVIP. Yakni kamar penthouse. Enam kamar. Juga ada penthouse untuk bayi yang baru lahir. Di penthouse dilakukan bayi rawat gabung. Bayi yang baru lahir dirawat di dalam kamar ibunya. Digabung dengan yang melahirkan.
Robotnya tidak hanya robot operasi, tapi juga robot farmasi. Masih ditambah robot-robot pelayanan. Pasien baru misalnya diantar ke kamar oleh robot.
ICU untuk bayinya --NICU- juga istimewa: 16 Nicu.